38 Pelukis dari Tiga Kota Ramaikan Pameran “Art for Freedom” di Galeri Merah Putih 

Siska Prestiwati
29 Mar 2026 18:41
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Sebanyak 38 pelukis dari tiga kota—Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik—yang tergabung dalam komunitas Aksi Seniman Surabaya (ASSU) bersiap menggelar pameran di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya.

Pameran bertajuk Art for Freedom ini akan dibuka pada Rabu (1/4/2026) pukul 16.00 WIB, selama sepekan hingga 8 April 2026.

Tajuk Art for Freedom sendiri menyimpan lapisan makna yang lebih dalam. Pameran ini lahir dari perjumpaan panjang para pelukisnya dengan realitas sosial, dinamika urban, serta pergulatan personal yang kemudian terakumulasi dalam karya mereka.

Di ruang Galeri Merah Putih, pengunjung akan menemukan karya-karya yang lirih dan kontemplatif, berdampingan dengan karya yang lantang dan provokatif.

Ada yang berbicara dengan keheningan, ada pula yang meledak lewat warna dan gestur.

Para pelukis yang terlibat bukan nama-nama baru. Mereka adalah seniman yang telah lama menapaki perjalanan estetik masing-masing dengan konsistensi yang teruji.

Sebagian dari mereka ada yang setia pada pendekatan impresionis yang menangkap cahaya dan suasana, sebagian lain menekuni realisme dengan detail yang nyaris fotografis, sementara yang lain memilih gaya abstraksi, membebaskan bentuk dan warna dari keterikatan representasi. Keberagaman karya itu menjadi denyut utama pameran.

Koordinator ASSU, Muit Arsa, menyebut antusiasme pelukis sebenarnya jauh lebih besar. “Lebih dari 38 pelukis dari berbagai kota di Jawa Timur siap bergabung. Tapi kami kesulitan dalam menata karya teman-teman di galeri,” ujar Muit, Minggu (29/3/2026).

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa energi seni rupa di Kota Surabaya tak pernah padam, selalu bertumbuh, dan bergerak mencari ruang.

Nama-nama yang terlibat pun mencerminkan jejaring yang luas, khususnya dari Surabaya, seperti Ami Tri, Andreanus G, Ani Hasan, Ariel Ramadhan, Budi Bi, Budi Ipeng, Cak Har, Choy, Esti Kunanti, Grace, Gwynneth,

Haritono, Helmy, Henry S, Herman S, Hermin Fuji, Kak Herry, Lukman Gimen,

Maman PS, Maria, Misgeiyanto, Muit Arsa, Nana Murti, Nini Sumini, Nurul Nuywell, Pingki Ayako, S. Rijal, Syam Arif,

Syamdhuro, Triyoso Yusuf, Tyo AK, Tyo Punk, Webeech, hingga Widijawati.

Dari Sidoarjo yakni Cholis Rajaba, Welldo Wnophringgo, dan Yoes Wibowo, sementara dari Gresik diwakili oleh Arik S. Wartono.

Pada akhirnya, Art for Freedom, tidak berhenti sebagai peristiwa pameran semata. Ia menjadi penanda bahwa kebebasan dalam seni bukan hanya tema, tetapi juga metode, cara seniman berbicara, bereksperimen, dan merespons zamannya. (nTok)

13-03-2026

5-5-2026