
Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Fenomena kritik bernada kasar yang belakangan marak di media sosial dan grup percakapan menjadi perhatian Ruang Publik Sidoarjo (RPS). Admin grup WhatsApp RPS yang akrab disapa Bupati Swasta Sujani menginisiasi diskusi kebangsaan bersama sejumlah tokoh masyarakat di Warkop Barongan, Sidoarjo, Jumat (14/11/2025) sore.
Sujani menyebut kini banyak kritik yang disampaikan dengan cara yang cenderung mengarah pada perundungan. “Boleh mengkritik, tapi gunakan bahasa yang baik. Kalau dibiarkan, bisa menjadi budaya baru yang buruk,” ujarnya di hadapan peserta diskusi.
Ia menekankan perlunya menjaga adat ketimuran dalam menyampaikan pendapat, termasuk menghindari bahasa arogan. Menurutnya, kritik yang sopan membuat pembaca atau pendengar lebih mudah menerima pesan yang disampaikan.

Sujani, Bupati Swasta yang kontroversi
Sejumlah anggota RPS juga menyampaikan pandangannya. Titin mengingatkan bahwa setiap masalah pasti ada sebab dan akibat. “Kalau tidak ada pemicu, mungkin tidak terjadi pembulian, terutama di medsos,” katanya.
Tokoh lain yang disebut sebagai Camat Swasta Kota Purwanto yang akrab disapa Bang Sol KAI mengajak anggota grup untuk saling mengingatkan jika ada unggahan yang dinilai kurang pantas. “Kita ini penganut budaya santun. Kalau ada yang kurang elok, ayo kita counter bersama-sama,” ujarnya.
Anggota RPS lainnya, Vicco, menambahkan bahwa kritik yang disampaikan dengan cara buruk bisa menimbulkan kesalahpahaman. “Kalau ada statement yang menyudutkan, sebaiknya dikoreksi. Hal baik yang disampaikan dengan cara buruk bisa jadi tidak baik,” ujar pria yang bekerja sebagai Aparatur Negeri Sipil Kabupaten Sidoarjo ini.
Sementara itu, anggota lainnya Loly menegaskan bahwa persoalan kritik kasar tak hanya terjadi di satu komunitas. “Banyak grup lain juga mengalami. Kalau ada kritik tidak sopan, harus segera diingatkan karena dapat mencerminkan seolah seluruh grup tidak santun,” katanya.
Tokoh lain, Gus Mat, menegaskan pentingnya menjunjung tinggi tradisi kesopanan. Senada, Pjs Camat Candi, Catur, menuturkan bahwa kritik tetap boleh disampaikan, namun harus santun. Ia menambahkan bahwa admin RPS memiliki kewenangan menghapus bahkan mengeluarkan anggota yang melanggar.
Anggota lainnya, Edi atau akrab disapa Gus Aby, yang dikenal sebagai Camat Swasta Sedati, mengajak anggota untuk memberikan komentar yang baik saja agar suasana grup tetap kondusif.
Pada akhir diskusi, seluruh peserta sepakat untuk bersama-sama menjaga ruang digital tetap sehat. Mereka berkomitmen meluruskan atau mengingatkan bila ada komentar atau pernyataan yang tidak sesuai nilai kesopanan.