Realisasi Pupuk Subsidi Jatim 2025 Tembus 90%, Pemprov Beberkan Penyebab Selisih Kebutuhan

Siska Prestiwati
30 Dec 2025 10:06
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id)– Dinas Pertanian Jawa Timur (Jatim) melaporkan penyerapan pupuk subsidi sepanjang 2025 telah mencapai sekitar 90 persen dari total alokasi 1,8 juta ton. Capaian itu masih berada di bawah angka kebutuhan dalam eRDKK yang memproyeksikan kebutuhan sekitar 1,88 juta ton untuk beberapa jenis pupuk, mulai dari urea, NPK, NPK formula, hingga pupuk organik.

Kepala Dinas Pertanian Jatim, Heru Suseno, menjelaskan selisih antara kebutuhan dan alokasi terjadi karena sejumlah faktor, termasuk penyesuaian kebijakan harga dan dinamika kebutuhan petani di lapangan.

“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya memang ada perbedaan. Dulu volumenya lebih besar, tetapi sekarang harga acuannya juga menyesuaikan kebijakan baru,” kata Heru di Surabaya, Selasa (30/12/2025).

Heru menegaskan dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian tidak hanya bertumpu pada pupuk subsidi. Bantuan mulai pra-panen hingga pasca-panen terus disalurkan baik oleh Kementerian Pertanian maupun Pemerintah Provinsi Jatim.

“Untuk pra-panen, kami menyediakan alat dan mesin pertanian seperti traktor, cultivator, hingga alat pengolah tanah. Tujuannya jelas, meningkatkan produktivitas petani,” ujarnya.

Pada tahap panen dan pascapanen, Pemprov Jatim juga memberikan berbagai sarana pendukung. Di antaranya mesin pemipil jagung (corn sheller) hingga fasilitas mobilisasi hasil panen agar distribusi lebih efisien.

“Intinya, petani tetap kami dampingi dari hulu sampai hilir,” tegas Heru.

Dari sisi produksi, Heru menyebut Jawa Timur konsisten menjadi salah satu penopang utama pangan nasional. Ia mengungkapkan kontribusi Jatim terhadap produksi beras nasional mencapai sekitar 17 persen. Data BPS menunjukkan produksi beras Jatim pada 2024 berada di angka 6,3 juta ton dan kembali meningkat pada 2025.

“Produksi tahun 2025 naik sekitar 13 persen dibandingkan tahun 2024. Gabah kering panen diperkirakan mencapai 12 juta ton, sedangkan gabah kering giling sekitar 10 juta ton,” papar Heru

Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian Jatim menargetkan luas tanam mencapai 2,35 juta hektare. Namun, target itu masih bersifat dinamis karena sangat dipengaruhi kondisi air dan cuaca.

“Kalau ketersediaan air memadai, indeks pertanaman (IP) bisa kami dorong naik dari rata-rata 1,95 menjadi 2,1,” jelasnya.

Heru juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Pemprov Jatim, kata dia, telah meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan mitigasi sejak Oktober. Daerah rawan banjir dan kekeringan diminta menyiapkan langkah antisipatif, termasuk mendorong petani ikut Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

“Asuransi ini ditanggung 80 persen oleh provinsi dan 20 persen oleh kabupaten/kota. Selain itu, kami juga mengatur pola tanam dan memilih varietas yang tahan kering atau tahan genangan,” tutup Heru.

 

13-03-2026

5-5-2026