Museum of Mind: Membaca yang Memudar

Endang Pergiwati
15 Aug 2026 17:29
4 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah kelompok seni memilih museum sebagai tempat untuk melihat kembali perjalanan mereka.

Museum, pada dasarnya, adalah ruang penyimpanan ingatan: benda-benda lama, jejak peristiwa, artefak, dan cerita yang dipertahankan agar tidak hilang ditelan waktu.

Tetapi Museum of Mind (MOM) datang ke Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, bukan sekadar untuk menyimpan ingatan.

Pada 15, 16, dan 17 Agustus 2026, tepat di tengah suasana peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, komunitas seniman lintas disiplin itu menggelar Pameran Partikelir: Coloring The Faded.

Pameran tersebut seperti sebuah perhentian untuk menoleh ke belakang, melihat dari mana MOM bermula, apa yang telah dilalui, dan untuk apa seni masih perlu terus dibuat.

Di tangan para seniman MOM, museum bukan lagi semata ruang yang berisi masa lalu. Ia berubah menjadi ruang percakapan antara masa lalu dan hari ini. Dan dari percakapan itu muncul pertanyaan yang lebih besar: apa yang sebenarnya sedang memudar?

Museum of Mind merupakan komunitas seniman dari berbagai disiplin. Sejak awal terbentuk, sekitar 2010–2011, mereka biasa berkumpul di Museum Mpu Tantular yang saat itu berada di kawasan Marmoyo, Surabaya. Dari pertemuan tersebut, MOM bergerak, berkarya, berpameran, dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas seni lain.

Tahun ini, pameran berlangsung di Museum Mpu Tantular yang kini berada di Sidoarjo. Bagi Wedar Sasmito, atau yang akrab disapa Gombrest, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan dengan cara yang unik.

“Museum of mine (MOM), awalnya kita berkumpul di Museum Mpu Tantular di kawasan Marmoyo, Surabaya, sekitar tahun 2010 hingga 2011. Kali ini, kami ingin mengadakan pameran, sekaligus peringatan HUT RI, dengan upacara bendera ala seniman MOM. Dalam kegiatan itu, kami juga berkolaborasi dengan komunitas seni lainnya, seperti Bomtrek, yang mengisi acara musik pada pembukaan pameran,” ujar Gombrest.

Pameran seni bertajuk Coloring The Faded ini berangkat dari keinginan untuk mewarnai apa yang memudar. Gombrest mengaitkannya dengan kegelisahan melihat berbagai hal di sekitar yang perlahan kehilangan warna, perhatian, bahkan ingatan.

Dalam konsep pameran, yang memudar bisa jadi adalah tradisi, sejarah, komunitas, maupun cerita-cerita yang mulai dilupakan atau berada di pinggir perhatian. Ia kemudian dihidupkan kembali melalui tafsir, pendekatan estetika, dan media yang lebih dekat dengan masa kini.

Gagasan tersebut juga menjadi pintu masuk untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang lebih mendasar: apa itu seni, apa itu manusia, apa yang dimaksud dengan akal budi, dan bagaimana sejarah dibentuk serta diingat.

Melalui katalog pameran, MOM membawa gagasan itu ke wilayah yang lebih reflektif. Manusia hidup dengan pikiran, pengalaman, dan kemampuan menciptakan. Seni menjadi salah satu bentuk dari kemampuan tersebut, cara manusia melihat kehidupan, mengolah pengalaman, dan memberi makna pada sesuatu yang ada di sekelilingnya.

Karya yang hadir dalam pameran ini pun tidak hanya berupa lukisan. Ada instalasi, karya logam, batik, dan karya tiga dimensi. Salah satunya menggunakan potongan rel kereta api dan helm proyek yang disusun menjadi sebuah model atau maket.

Dikatakan Gombrest, keberagaman karya memang menjadi bagian dari pameran tersebut.

“Karya yang dipamerkan tidak hanya lukisan, ada juga instalasi, beberapa karya metal, batik, dan karya tiga dimensi. Ada yang menggunakan potongan rel kereta api dan helm proyek untuk membentuk sebuah model atau maket,” jelasnya.

Keragaman medium tersebut memperlihatkan bahwa gagasan tentang sesuatu yang “memudar” tidak harus diterjemahkan melalui satu bentuk visual saja. Masing-masing seniman memiliki cara dan material yang berbeda untuk mengolah gagasan tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sadari, S.Sn., melihat MOM sebagai komunitas dengan perjalanan yang cukup panjang dan karakter yang tidak biasa.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Sadari, S.Sn.,. Doc : Endang

“Teman-teman yang pameran sore ini riwayatnya panjang. Tidak pada umumnya, baik karakter maupun karyanya. Harapan saya, proses berkarya ini tidak berhenti, mereka harus berkarya secara kontinyu, konsisten,” kata Sadari, saat membuka pameran beberapa waktu lalu.

Menurutnya, di era digital, karya bukan satu-satunya hal yang penting. Proses penciptaan, teknik, serta cerita mengenai zaman ketika karya itu dibuat juga menjadi bagian penting dari perjalanan seorang seniman.

“Harapan semangat teman-teman jangan berhenti di sini dan harus terus kreatif. Semangat mencipta karya baru, pameran lagi dan menjalin komunikasi dengan publik,” lanjutnya.

Pada akhirnya, Coloring The Faded bukan sekadar tentang memberi warna pada sesuatu yang dianggap memudar. Ia juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali hal-hal yang pernah ada, yang mungkin terlupakan, lalu membawanya ke dalam percakapan hari ini.

MOM tidak sedang menawarkan jawaban tunggal tentang apa yang harus diingat atau bagaimana seni seharusnya dibuat. Mereka hanya membuka kembali pertanyaan-pertanyaan itu melalui karya. Sebab ingatan, seperti halnya warna, bisa memudar. Tetapi selalu ada kemungkinan untuk melihatnya kembali dan mungkin memberinya warna yang berbeda.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia