Drone Canggih milik Amerika Serikat di langit Iran. Doc : IstimewaJakarta (Aksaraindonesia.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Militer Iran mengklaim telah menembak jatuh 10 drone canggih di berbagai wilayah negara itu pada Senin (2/3/2026). Dengan demikian, total 22 drone jenis Hermes—yang diduga milik Amerika Serikat (AS) dan Israel—telah berhasil dijatuhkan.
Dilansir Al Jazeera, otoritas Iran menyebut kondisi saat ini sebagai “momen perlawanan skala penuh”. Mereka menegaskan siap melakukan pembalasan besar atas serangan yang sebelumnya menghantam sejumlah lokasi strategis di Iran.
Pihak Iran juga mengeklaim belum mengerahkan kemampuan militernya secara maksimal. Beberapa sistem rudal canggih disebut masih disimpan untuk kemungkinan eskalasi lebih tinggi. “AS dan Israel akan membayar mahal atas agresi mereka,” ujar pejabat militer Iran seperti dikutip media tersebut.
Iran menggambarkan konflik kali ini berbeda dengan konfrontasi sebelumnya. Para pemimpinnya melabeli situasi tersebut sebagai perang eksistensial—tanpa ruang untuk mundur, kompromi, atau menyerah—hingga Iran menunjukkan kemampuannya mempertahankan martabat serta kemerdekaan.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menyerang kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang beroperasi di wilayah Teluk. Serangan yang disebut dilakukan pada Minggu (1/3/2026) itu menggunakan empat rudal balistik, dilakukan setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.
“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam empat rudal balistik,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran yang dimuat oleh media lokal dan dikutip Al Jazeera.
Garda Revolusi juga memperingatkan bahwa wilayah daratan maupun lautan bisa berubah menjadi “kuburan bagi musuh”.
Hingga kini, belum ada konfirmasi dari pihak militer AS terkait tingkat kerusakan atau potensi korban akibat serangan tersebut. Diketahui, USS Abraham Lincoln telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Januari.
AS dan Israel sebelumnya meluncurkan operasi serangan bertajuk Epic Fury pada Sabtu (28/2). Serangan itu menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil.
Iran membalas dengan dua gelombang serangan pada Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3), termasuk serangan yang menyasar Riyadh serta wilayah Provinsi Timur Arab Saudi.
Ketegangan antarnegara diprediksi masih akan berlanjut, mengingat kedua pihak terus saling melancarkan serangan dan belum ada tanda-tanda kemungkinan deeskalasi.