Geliat Kreatif Bengkel Muda Surabaya Lewat Teater Anak dan Kritik Sosial

Endang Pergiwati
24 Dec 2025 07:55
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Setelah cukup lama absen dari pementasan teater, Bengkel Muda Surabaya (BMS) kembali menunjukkan geliat kreatifnya sepanjang tahun 2025 melalui rangkaian pertunjukan dan kegiatan budaya yang konsisten membaca persoalan sosial dan lingkungan.

Momentum kebangkitan itu diawali pada 11–12 Oktober 2025 lewat pementasan Musikalisasi Teater Anak Sangkuriang. Mengangkat legenda rakyat yang penuh misteri, pertunjukan ini dikemas sebagai tontonan edukatif yang menanamkan nilai kejujuran dan peringatan atas bahaya kesombongan yang dapat berujung petaka.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada 10–11 Desember 2025 dalam peringatan 53 tahun Bengkel Muda Surabaya bertajuk “Surabaya Ayo Bicara.” Forum ini menghadirkan akademisi, arsitek, aktivis, sejarawan, teaterawan dan budayawan yang memaparkan Surabaya dari beragam perspektif, menjadikannya ruang dialog lintas disiplin tentang kota Surabaya dan kebudayaannya.

Pada hari penutupan, 11 Desember 2025, BMS mementaskan teater “Skolah Skandal”, karya almarhum Akhudiat yang diadaptasi dari naskah klasik The School for Scandal karya Richard Brinsley Sheridan. Naskah abad ke-18 ini dikenal sebagai komedi satir sarat dengan kritik sosial tajam dan tradisi comedy of wit, yang juga pernah mendapat perhatian George Bernard Shaw sebagai karya komedi cerdas dengan kekuatan satir dan teknis dramatik.

Menutup tahun, pada 31 Desember 2025, BMS akan mementaskan teater anak “TRAGEDI KAYU,” di sutradarai Heroe Budiato, sekaligus Ketua Umum BMS.

Karya tersebut terinspirasi dari puisi Arthur Jhon Horoni, senior BMS yang tinggal di Aceh—wilayah yang belakangan mengalami bencana ekologis akibat penebangan hutan dan aktivitas tambang yang tak terkendali.

Tragedi Kayu digarap sebagai teater anak berbasis simbol dan idiom yang aktual, dengan pendekatan edukatif dan reflektif. Pertunjukan ini mengajak anak-anak memahami dampak kebohongan, keserakahan, dan eksploitasi alam yang berujung pada rusaknya keseimbangan lingkungan—mulai dari hutan gundul, sungai keruh, hingga bencana banjir, longsor, dan kekeringan.

Melalui narasi “Luka Alam, Bumi Meronta,” Tragedi Kayu menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akibat langsung dari pilihan manusia. Beban itu, pada akhirnya, harus ditanggung oleh generasi yang akan datang.

13-03-2026

5-5-2026