Selat Hormuz. Doc : istimewaJakarta (Aksaraindonesia.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Iran dilaporkan menutup akses pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada akhir Februari 2026. Langkah ini langsung memicu kegelisahan pasar energi global karena selat tersebut merupakan jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.
Jalur Energi Paling Penting di Dunia Terganggu
Selat Hormuz dikenal sebagai “urat nadi energi dunia”. Jalur laut sempit yang memisahkan Iran dari Oman dan Uni Emirat Arab itu menjadi satu-satunya akses keluar masuk minyak mentah dari negara-negara Teluk menuju pasar global. Lebih dari 20% pasokan minyak dunia serta volume besar LNG melintas melalui selat ini setiap hari.
Karena perannya yang sangat strategis, sedikit saja gangguan di Selat Hormuz dapat menciptakan gejolak serius pada suplai dan harga energi dunia.
Iran Peringatkan Kapal untuk Tidak Melintas
Pasca kematian Ali Khamenei, otoritas Iran melalui unit militernya mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal tidak melintasi area tersebut. Meski status “penutupan penuh” masih dipantau otoritas maritim internasional, kondisi di lapangan menunjukkan terjadinya gangguan signifikan pada lalu lintas pelayaran.
Tindakan Iran ini dinilai sebagai respons langsung atas memanasnya situasi militer di kawasan sekaligus manuver geopolitik yang berdampak luas pada ekonomi global.
Harga Minyak Berpotensi Melonjak Tajam
Gangguan terhadap Selat Hormuz langsung menekan pasar minyak mentah. Analis energi memprediksi harga minyak dunia bisa melonjak dalam waktu dekat jika situasi ini berlanjut, bahkan berpotensi menembus level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Pasar kini memasukkan “premi risiko” akibat potensi terhambatnya suplai minyak dari kawasan Teluk, sehingga tak hanya minyak mentah yang terdampak, tetapi juga produk turunan seperti bensin, solar, dan LPG.
Dampaknya bisa terasa ke berbagai sektor:
• Biaya energi naik, mendorong inflasi banyak negara
• Harga transportasi dan logistik meningkat
• Biaya asuransi kapal melonjak akibat risiko keamanan
• Ketidakpastian ekonomi global membesar
Ancaman Jangka Panjang
Meski penutupan total Selat Hormuz secara permanen hampir mustahil karena tekanan internasional, ancaman gangguan sementara saja sudah cukup mengguncang pasar global. Selama Iran belum memberikan kejelasan soal status selat, pasar energi diperkirakan tetap bergejolak.
Situasi ini menempatkan dunia pada fase ketidakpastian baru, di mana konflik geopolitik kembali menjadi faktor utama penentu stabilitas harga energi global.