
Santri Ponpes Manba’ul Hikam kembali menjalani perawatan intensif di rumah sakit pasca merasakan gejala keracunan muncul kembali. Doc : Pojoktv.com untuk aksara Indonesia.idSidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Puluhan korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, dilaporkan kembali mengalami keluhan kesehatan hingga harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Gejala mual, muntah, diare, dan lemas yang sempat mereda mendadak kambuh.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 45 santri terpaksa kembali menerima penanganan medis. Sebanyak 33 santri dirujuk ke RSUD Notopuro Sidoarjo sejak malam hari, sementara 12 santri lainnya dirawat di RSI Siti Hajar Sidoarjo.
Humas RSUD Notopuro Sidoarjo, Risky Maulana, membenarkan kedatangan belasan santri tersebut pasca-penanganan pertama beberapa hari sebelumnya.
”Puluhan santri yang datang merupakan pasien lama yang sempat dipulangkan, namun gejalanya muncul kembali. Sebagian besar mengeluhkan mual, muntah, diare, hingga kondisi fisik yang sangat lemas,” ujar Risky, Selasa (8/9/2026).
Risky menjelaskan bahwa organ pencernaan para santri masih dalam kondisi sensitif pascainsiden. Selain itu, kecepatan pemulihan fisik serta respons tubuh terhadap pengobatan berbeda pada setiap individu.
”Kami belum bisa memastikan apakah ada luka atau iritasi permanen pada lambung pasien, mengingat insiden paparan sudah berlangsung sekitar satu pekan,” jelasnya.
Dari 33 santri yang masuk ke RSUD Notopuro, 31 orang di antaranya sudah diizinkan pulang usai kondisinya membaik. Namun, dua santri lainnya masih harus menjalani perawatan intensif akibat kondisi tubuh yang belum stabil.
Rasa Trauma dan Penolakan MBG
Kembalinya gejala keracunan ini menyisakan trauma mendalam bagi para santri. Aisyah Nurin Nudzila, salah satu santri kelas 9 yang menjadi korban, mengaku sangat ketakutan untuk mengonsumsi santapan yang disediakan program tersebut.
”Masih trauma. Waktu melihat menu telur saja langsung teringat rasa mual dan muntah pasca-makan soto ayam dan roti waktu itu,” kata Aisyah.
Rasa cemas serupa disampaikan oleh orang tua Aisyah, Sofa. Ia melarang keras putrinya untuk kembali mengonsumsi jatah makanan dari program MBG demi mencegah risiko berulang. Sofa juga mengapresiasi langkah tegas pengelola ponpes yang mulai menghentikan penerimaan pasokan makanan tersebut.
”Jelas trauma. Kemarin saja adiknya ikut menolak saat diberi makanan MBG. Rencananya setelah dari rumah sakit, anak saya mau dijemput dan dibawa pulang dulu ke Jombang sampai benar-benar pulih,” tutur Sofa.

