Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabon di Kabupaten Sidoarjo diperkirakan akan mencapai kapasitas maksimal dalam lima tahun ke depan. Kondisi itu membuat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo bergerak cepat menyiapkan langkah antisipasi agar persoalan sampah tak makin membesar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Kabupaten Sidoarjo Arif Mulyono mengatakan, TPA Jabon yang memiliki luas sekitar 13 hektare diprediksi penuh total pada 2030 jika pola pembuangan sampah masyarakat tidak segera berubah.
Menurutnya, produksi sampah di Kabupaten Sidoarjo saat ini mencapai 900 hingga 1.100 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 500 sampai 600 ton residu sampah masih dibuang ke TPA Jabon setiap hari.
“Secara teknis, TPA Jabon diperkirakan hanya mampu bertahan maksimal lima tahun lagi, berkisar sampai 2030. Kalau sudah penuh, kita tidak bisa terus bergantung pada TPA sebagai solusi akhir. Penanganan harus dimulai dari hulu dan pertengahan,” kata Arif dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Untuk menekan beban TPA, DLHK Sidoarjo kini fokus mengoptimalkan pemilahan sampah di tingkat desa dan kecamatan melalui TPS3R atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle.
Arif menjelaskan, pihaknya menempatkan satu fasilitator di setiap kecamatan sebagai person in charge (PIC). Tugasnya mengoordinasikan pengelolaan sampah sekaligus mengaktifkan kembali TPS3R yang selama ini tidak berjalan optimal.
Selain itu, pemilahan sampah organik dan anorganik di TPS3R juga terus diperkuat. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, karena setoran residu sampah ke TPA Jabon disebut turun sekitar 40 hingga 50 persen.
DLHK juga mengimbau warga yang menggunakan jasa gerobak sampah swadaya agar ikut mengawasi alur pembuangan sampah. Warga diminta memastikan sampah yang dibayarkan setiap bulan benar-benar dibawa ke TPS3R resmi.
Langkah itu dinilai penting untuk mencegah praktik pembuangan sampah sembarangan oleh oknum, baik di jalan maupun di aliran sungai.
Di sisi lain, DLHK mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, baik organik maupun anorganik. Warga juga didorong aktif menanam pohon sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan tetap sehat bagi generasi mendatang.