Kritik Pola Pemilihan Seorang Pemimpin Teater Institut Unesa Sajikan Ave Saturnus

Endang Pergiwati
30 May 2026 23:41
3 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Panggung Sawunggaling Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (30/5/2026) malam, dibuka dengan adegan perempuan berpakaian serba putih seolah sosok malaikat. Ia menyampaikan sebait dua bait prolog cerita. Adegan kemudian diikuti datangnya serombongan orang sambil memikul semacam keranda. Rupanya karena seorang pemimpin telah tiada, para warga pun memutuskan akan melakukan pemilihan calon pemimpin yang baru.

Proses pemilihan pun berlangsung. Warga begitu saja memilih pemimpin mereka yang baru tanpa benar-benar mengenal siapa pemimpin baru tersebut. Pola sikap yang semena-mena dari pemimpin baru ini akhirnya membawa bencana di tengah masyarakat. Saturnus, nama si pemimpin, menjadi contoh pemimpin yang tidak membawa rakyatnya pada kemakmuran. Sebaliknya, satu per satu warga harus menjadi korban karena sikap lalim Saturnus.

Afandi Andriansyah selaku sutradara pentas teater berjudul Ave Saturnus ini memaparkan, proses pemilihan seorang pemimpin memang menjadi faktor penentu baik atau buruknya pemimpin yang akan didapatkan.

“Terkadang orang tidak tahu bagaimana seseorang bisa dipilih, tidak melihat background, karena terlalu tergesa gesa, atau terlalu tidak peduli bagaimana sosok calon tersebut, yang penting mereka merasa aman dulu,” tuturnya, usai pentas teater Etalase Budaya #11 ini.

Pria yang akrab dipanggil Fandi ini melihat pola pemilihan pemimpin demikian terjadi di Indonesia.

“Harapan saya, melalui pentas ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, untuk bisa lebih peka akan permasalahan sosial politik masa kini. Kita harusnya memiliki kesadaran sosial politik,” tegasnya.

Dengan proses 3 bulan, Fandi menggarap 25 aktor hingga melahirkan sebuah pertunjukan teater yang membuat emosi penonton terseret pada tragedi demi tragedi yang disajikan.

“Yah semoga para kaum muda masa kini akan semakin mencintai teater, karena sebuah pertunjukan teater adalah bentuk representative dari masyarakat kita sendiri,” tutur mahasiswa Unesa Angkatan 2024 ini.

Sementara Bagus Aji Sadewo, aktor yang berperan sebagai Saturnus, juga mengungkapkan hal senada.

“Pemilihan yang buruk akan menghasilkan pemimpin yang buruk, pemimpin yang buruk bisa menghancurkan semuanya,” tuturnya.

Bagi Bagus Aji, demokrasi yang dianut oleh negara ini bukanlah sistem yang terbaik, malah menjadi sistem pemilihan yang buruk, karena dalam sistem ini, mereka yang memiliki suara berseberangan tidak bisa mengajukan pendapat apapun. Masyarakat hanya memilih kelompok yang memenangkan suara terbanyak.

Bagus Aji berharap agar masyarakat melakukan riset lebih dalam lagi agar dapat memilih pemimpin yang baik.

Meski baru pertama kali memasuki panggung teater, Bagus Aji tampak berhasil membawa karakter Saturnus secara utuh dalam pertunjukan berdurasi satu jam. Namun dirinya mengakui, membawa peran antagonis sangatlah tidak mudah.

“Yang terberat adalah olah rasa, karena dalam olah rasa ini, perasaan kita seolah dimainkan, sehingga rasanya capek banget. Saya sampai menolak diri saya sendiri. Jadi saya harus benar-benar bisa membedakan, mana diri saya dan mana Saturnus,” pungkas mahasiswa Prodi Musik Fakultas Bahasa dan Seni Angkatan 2025 ini.

5-5-2026

Arsip Berita :