Era Digital Picu Kekhawatiran Baru, Lia Minta Strategi Perlindungan Buruh

Siska Prestiwati
1 May 2026 13:42
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) — Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 kembali menjadi sorotan, bukan hanya sebagai agenda tahunan, tetapi juga sebagai momentum mengulas persoalan yang terus menghimpit para pekerja. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menilai isu ketenagakerjaan kini berada pada titik yang semakin rumit seiring derasnya arus digitalisasi.

Lia menyebut perubahan teknologi adalah keniscayaan, namun pemerintah perlu memastikan bahwa inovasi tidak mengorbankan sektor padat karya. “Peralihan ke era digital memang tak terhindarkan, tetapi harus diantisipasi. Jangan sampai kemajuan teknologi justru meminggirkan buruh,” ujarnya.

Ia menilai otomatisasi telah menekan banyak jenis pekerjaan, memicu ketakutan baru soal masa depan lapangan kerja. Karena itu, negara dinilai wajib menyiapkan strategi perlindungan dan adaptasi agar keseimbangan antara efisiensi teknologi dan keberlangsungan kerja tetap terjaga.

Lia menegaskan bahwa kesejahteraan pekerja tidak bisa hanya ditakar dari UMK semata. Menurutnya, buruh kini lebih membutuhkan jaminan kesinambungan pekerjaan di tengah perubahan besar dunia industri. “Ini bukan cuma soal angka upah. Ini soal masa depan, apakah buruh masih punya ruang untuk berkembang,” katanya.

Selain tantangan digital, Lia juga menyoroti maraknya pelanggaran hak asasi manusia terhadap buruh. Mulai dari lembur tanpa kompensasi, pembebanan risiko kerja, hingga pemutusan hubungan kerja akibat tuduhan sepihak, dinilai masih sering menimpa pekerja.

Banyak buruh, lanjutnya, berada dalam posisi serba sulit. Tekanan ekonomi dan minimnya akses pendampingan hukum membuat mereka kerap memilih bertahan meski berada dalam perlakuan yang tidak adil. “Tidak sedikit yang kehilangan pekerjaan bahkan aset pribadi karena tuduhan yang tak terbukti. Ini menunjukkan perlindungan buruh masih jauh dari ideal,” tegasnya.

Lia mendorong pemerintah untuk hadir lebih kuat melalui pengawasan yang tegas dan kemudahan akses keadilan bagi pekerja. Momentum Hari Buruh, kata dia, harus menjadi pengingat bahwa buruh bukan sekadar roda penggerak ekonomi, tetapi manusia yang memiliki martabat dan masa depan.

Fokus kita harus dua: perlindungan HAM dan menjaga keberlanjutan pekerjaan di era digital. Tanpa itu, kesejahteraan buruh hanya akan menjadi jargon,” pungkasnya.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026