DLHK Turun Tangan, TPA Liar Trompoasri Akhirnya Ditutup

Siska Prestiwati
14 Apr 2026 14:09
2 minutes reading

Sidoarjo (Aksaraindonesia.Id) – Tumpukan sampah yang menggunung di Desa Trompoasri akhirnya mendapat perhatian serius. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo menutup lokasi yang selama ini menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) liar, Selasa (14/4/2026).

Sidak dilakukan langsung oleh Plt Kepala DLHK Sidoarjo, Arif Mulyono, bersama perangkat desa, BPD, serta aparat dari kepolisian dan TNI. Di lokasi, mereka mendapati kondisi yang memprihatinkan—sampah menggunung, tercecer, dan menimbulkan kesan kumuh.

“Dari hasil pengecekan, aktivitas ini sudah berlangsung kurang lebih dua tahun. Mulai hari ini kami tutup, terutama untuk pembuang sampah dari luar desa,” kata Arif.

Warga Hidup di Tengah Bau dan Tumpukan Sampah

Selama ini, warga sekitar harus hidup berdampingan dengan tumpukan sampah yang terus bertambah. Minimnya sistem pengelolaan membuat lahan tersebut berubah menjadi tempat pembuangan liar.

“Ini terjadi karena belum ada manajemen pengelolaan sampah yang baik di desa,” ujar Arif.

DLHK pun mendorong solusi cepat. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) agar warga tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Jejak Limbah Industri Mulai Ditelusuri

Dibalik tumpukan sampah itu, tersimpan persoalan lain. Mantan Kasun Bendungan Trompoasri, Rofiq, menyebut sebagian sampah diduga berasal dari limbah plastik industri.

Kini, pihak desa bersama DLHK mulai menelusuri asal limbah tersebut untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab.

“Kami koordinasi agar bisa diketahui dari perusahaan mana sampah ini berasal, supaya penanganannya jelas,” ujar Rofiq.

Meski kondisinya memprihatinkan, di lokasi tersebut sempat muncul upaya warga untuk bertahan. Beberapa warga memilah sampah yang masih bernilai jual sebagai sumber penghasilan.

Yang memilah ya warga sini sendiri. Kami coba manfaatkan lewat BUMDes agar ada nilai ekonominya,” tambahnya.

TPST Mangkrak, Masalah Kian Membesar

Di sisi lain, persoalan sampah di Trompoasri ternyata sudah lama terjadi. Pelaksana Tugas Kepala Desa Trompoasri, Suyanto, mengakui kondisi kini sudah memasuki tahap kritis.

Fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang seharusnya menjadi solusi justru mangkrak selama dua hingga tiga tahun.

“Bangunan sudah ada sejak kepala desa sebelumnya, tapi belum bisa difungsikan karena alat dan pengelolanya belum siap,” jelas Suyanto.

Keterbatasan anggaran dan peralatan membuat desa belum mampu mengelola sampah secara optimal. Akibatnya, pembuangan liar terus terjadi dan berdampak pada lingkungan serta kesehatan warga.

Kini, penutupan TPA liar menjadi langkah awal. Harapannya, Trompoasri benar-benar bisa kembali menjadi desa yang “asri”, seperti namanya—bukan lagi identik dengan tumpukan sampah.

 

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :