![]()

.
Kita masih di bawah satu atap,
namun jiwa kita tak lagi menatap.
Langkahmu hanya bayang yang lewat,
suaraku pun bagai gema yang lenyap.
Dapur berasap, tapi rasa meredup,
piring terhidang, tapi cinta tertutup.
Tangan menghidang, hati tak meraup,
hidup berdua, namun jiwa terkutuk.
Di ranjang kita rebah bersama,
namun mimpi berlayar ke arah berbeda.
Tubuh berdekatan, hati terlupa,
kehangatan hilang, berganti beku yang membatu jiwa.
Engkau ada bagai dinding,
aku pun hadir bagai bayang dingin.
Kita bersapa tanpa hening,
kita bicara tanpa makna, tanpa bening.
Hari demi hari bagai arloji berputar,
detiknya tajam namun hambar.
Kebersamaan hanya sekadar,
tanpa gairah, tanpa dengar, tanpa sadar.
Aku bertahan pada nama,
engkau bertahan pada sisa lama.
Mungkin demi anak, mungkin demi stigma,
atau hanya takut menelan sepi di dada.
Ah, cinta pernah menjadi cahaya,
kini padam tinggal abu yang sia-sia.
Rumah kita masih punya jendela dan jala,
tapi kosong—tak ada nyawa, tak ada jiwa.
Kita tinggal bersama,
tapi tak hidup bersama.
Kita sekadar ada,
namun tanpa rasa