Pesta Kesenian Bali, Pesta Seni Budaya Bertahan Selama 47 Tahun

Tri Ambarwatie
20 Jul 2025 14:26
4 minutes reading

Penulis : Tri Ambarwatie

Denpasar (aksaraindonesia.id) – Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 2025 menginjak tahun ke-47, sebuah perjalanan panjang bagi event kesenian lokal. Namun, predikat Bali sebagai daerah wisata yang banyak menarik wisatawan lokal dan mancanegara, menjadi keuntungan bagi PKB karena meskipun murni menampilkan beragam seni Bali dan bahasa yang digunakan pun bahasa daerah, namun tidak menyurutkan para pengunjung PKB yang mungkin tidak memahami bahasa daerah Bali untuk turut meramaikan Pesta Kesenian yang berlangsung setiap tahun, selama satu bulan.
Itu pula yang terlihat dalam gelaran Pesta Kesenian Bali XLVII yang berlangsung pada 21 Juni hingga 19 Juli 2025. Dimulai dari pembukaan kegiatan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi Denpasar pada Sabtu, 21 Juni 2025 yang diiringi dengan Peed Aya atau Pawai yang diikuti oleh seluruh 8 kabupaten dan 1 kotamadya di Provinsi Bali serta Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Ribuan pengunjung tumpah ruah melebihi kapasitas 2.500 penonton yang berada di tribun penonton.
Namun kemeriahan Pesta Kesenian Bali XLVII bukan hanya saat pawai pembukaan karena ada rekasadana atau pergelaran, utsawa atau parade, wimbakara atau lomba, widyatula atau sarasehan. Kriyaloka atau lokakarya, kandarupa atau pameran serta Bali World Culture Celebration atau BWCC, adi sewaka nugraga atau penghargaan pengabdi seni dan jantra tradisi Bali, yang semuanya digelar di Art Centre, Denpasar Bali.
Seperti namanya, Pesta Kesenian Bali tentunya menampilkan ragam jenis seni dan budaya Bali, serta penggunaan bahasa daerah Bali dalam penampilan para artis.
Lalu bagaimana dengan penonton yang tidak memahami bahasa daerah Bali? Ketua Kurator Pesta Kesenian Bali XLVII, Prof. Dr. I Wayan Dibia memberikan saran, “untuk teman-teman dari luar Bali yang ditonton itu yang tidak banyak menggunakan bahasa Bali, misalnya tari klasik Legong. Kalo yang paham bahasa Bali sedikit, silakan masuk ke drama tari berdialog”.
Terlepas dari memahami bahasa daerah atau tidak, bukankah seni budaya mampu menembus halangan bahasa. Itulah yang menjadikan Pesta Kesenian Bali selalu dipenuhi pengunjung baik warga Bali, maupun non Bali termasuk para turis mancanegara.
Menariknya lagi, Pesta Kesenian Bali seperti tahun- tahun sebelumnya juga mengakomodir kaum disabilitas untuk turut berkarya. Seperti di hari kedua PKB 2025, pada hari Minggu 22 Juni 2025, anak-anak dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bali tampil memukau di atas panggung di Gedung Ksirarnawa, Kawasan Art Centre, menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan merayakan budaya.
Dengan penuh semangat dan percaya diri, para siswa SLB menampilkan tarian tradisional Bali, musik kolaboratif, hingga pertunjukan teater sederhana yang menyuarakan keberagaman dan semangat kebersamaan. Penampilan mereka disambut tepuk tangan hangat dari para penonton yang hadir, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.
Para guru pendamping pun mengaku bangga dengan anak-anak asuh mereka. Satu diantaranya Titik. guru SLB Negeri 3 Denpasar, Bali yang mengakui menemui kesulitan saat melatih anak-anak berkebutuhan khusus yakni tuna grahita untuk dapat tampil dalam Pesta Kesenian Bali 2025 ini. Titik mengatakan, “memang ada kesulitan dalam melatih anak-anak, terutama dalam soal kedisiplinan. Karena itu kami menggunakan metode drill untuk melatih mereka, yakni metode berulang-ulang.”
Dalam PKB 2025, anak-anak SLB Negeri 3 Denpasar menampilkan Kisah Rama, Sinta, dan Rahwana yang merupakan cerita rakyat yang sangat terkenal dalam wiracarita Ramayana. Berkat latihan yang gigih serta ketelatenan dari para guru dan pembimbing, anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa maksimal menampilkan peran sebagai Rama, Rahwana, Sinta, serta Hanoman juga para penari Kecak.
Ronald yang berperan sebagai Rahwana menyampaikan rasa sukacitanya bisa tampil untuk pertama kalinya di Pesta Kesenian Bali, meski ujarnya “Kalo susah agak lumayan karena faktor kostum, gerakannya juga susah dan ada menarinya juga. Tapi kalo pentas, ya senang, apalagi ada teman-teman juga yang tampil”.
Rasa bangga atas penampilan anak didik di panggung tidak hanya dirasakan sang guru namun tentunya juga para orangtua yang telaten menemani anak-anak berlatih. Seperti yang disampaikan oleh Ibunda Ronald pemeran Rahwana, “meski kami harus bolak- balik mengantar anak-anak untuk berlatih namun kami senang karena anak-anak bisa menunjukkan bakat mereka dalam PKB ini. Meski anak-anak punya keterbatasan, bisa tampil di sini itu udah luar biasa. Senang sekali rasanya kami sebagai orangtua”.
Keterlibatan anak-anak SLB dalam PKB 2025 ini diharapkan menjadi inspirasi bagi festival seni lainnya di Indonesia untuk membuka ruang lebih luas bagi inklusivitas. Penampilan mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan artistik, tetapi juga menjadi simbol bahwa seni mampu menyatukan semua, tanpa memandang keterbatasan fisik maupun intelektual.
Sampai jumpa di Pesta Kesenian Bali ke -48 tahun 2026.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :