
Mojokerto (Aksaraindonesia.id) – Pemerintah Kabupaten Mojokerto menetapkan kejadian keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kutorejo sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hingga Selasa (13/1/2026), jumlah korban terus bertambah dan kini mencapai 384 orang, terdiri dari santri, pelajar, tenaga pendidik, hingga orang tua pelajar.
Pantauan Aksaraindonesia. Id di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari, puluhan korban masih menjalani perawatan akibat diduga keracunan menu soto ayam yang disalurkan pada Jumat (9/1). Menu tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang di Desa Wonodadi, Kutorejo.
Koordinator dokter IGD RSUD Prof dr Soekandar, dr Agi Fristawan, mengatakan sebagian besar pasien membaik dan sudah diizinkan pulang.
“Update terakhir, sudah banyak yang KRS (pulang ke rumah). Sebanyak 25 orang sudah KRS, dan yang masih dirawat tersisa 26 orang,” ujarnya.
dr Agi menambahkan, dari total 65 pasien yang dirawat sejak Sabtu (10/1), kini tinggal 26 pasien—terdiri dari 10 anak dan 6 dewasa yang direncanakan menyusul pulang.
Sementara itu, Sekdakab Mojokerto Teguh Gunarko menegaskan data korban terus bergerak.
“Data terbaru sampai pukul 20.00 WIB kemarin, jumlah korban keracunan sebanyak 384 orang, dengan 158 orang sempat menjalani rawat inap,” jelasnya.
Keracunan massal ini terjadi setelah para korban mengonsumsi soto ayam Program MBG yang dibagikan SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03. Gejala yang dialami korban meliputi diare, muntah, hingga pusing.
Sedikitnya tujuh lembaga pendidikan dari total 20 lembaga di Kutorejo terdampak. SPPG diketahui menyalurkan 2.679 paket makan bergizi ke seluruh lembaga tersebut.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak telah meninjau langsung kondisi para korban di Ponpes Ma’had An Nur dan RSUD Prof dr Soekandar pada Minggu (11/1). Pemerintah daerah masih melakukan penanganan lanjutan serta pemeriksaan sampel makanan terkait kasus ini.