![]()

Dalam tubuhnya mengendap kepompong letih yang tak terbilang
Menyimpan rahasia retak, rapuh, dan luka yang tak ia sebut
Ia berpura menjadi kupu yang tegar, terbang menghadap pagi
Padahal sayapnya bergetar, hampir patah oleh beban yang membukit
Ia menyulam cahaya di wajah, menipu dunia dengan sinar
Sementara gelap di dadanya menjelma hutan yang tak pernah reda
Ia berdiri bagai pohon tua menahan ribut yang terus memaksa
Padahal akarnya rapuh, separuh patah oleh sunyi yang tak punya arah
Setiap malam ia menjadi bayang yang menggeliat mencari wujud
Mengulur waktu untuk menampung tangis yang tak sempat jatuh
Ia ingin runtuh, menjadi tanah yang jujur pada retaknya sendiri
Namun dunia memintanya terus tumbuh walau jiwanya penuh debu lusuh
Ia menampung air mata di telapak tangan, tapi sebelum jatuh, ia hapus sendiri
Takut dunia menyaksikan bahwa kekuatannya hanyalah dusta yang hampir runtuh
Ia tersenyum pada siang, namun di malam ia memeluk gelap seperti kekasih terakhir
Sebab hanya gelap yang mengerti, bagaimana manusia bisa hidup tapi seluruhnya rapuh
Kadang ia ingin menjelma angin, hilang tanpa suara tanpa arah
Meelepas semua beban yang seperti parasit menggerogoti tulangnya
Namun ia terperangkap, seperti kupu-kupu hitam yang patah sayap, terjatuh di tanah
Kupu yang lahir terlalu dini dari kepompong yang belum sempat mengumpulkan tenangnya