![]()

Aku lahir dari dua nama yang tak pernah jadi rumah.
Dibesarkan waktu, bukan tangan yang seharusnya menjagaku dengan indah.
Sejak kecil aku belajar bahwa rindu bisa kosong dan tak berbalas.
Keduanya masih hidup, tapi jiwa mereka tak pernah tinggal menetap.
Aku tumbuh sambil meraba udara yang mestinya berisi kasih.
Namun yang kudapat hanya jarak yang menganga, dingin, dan tak pernah berselisih.
Tak ada suara lembut memanggilku pulang dari letih hari.
Yang ada hanya aku—menata malam yang terlalu sunyi untuk hati sekecil ini.
Setiap luka kubenamkan sendiri, sebab tak ada punggung tempat bersandar.
Setiap tangis kupendam, karena tak ada dada tempat semua bebanku ditambatkan sabar.
Mereka hidup, tapi entah di mana peran yang seharusnya dipikul
Aku hanya melihat bayang mereka lewat, tanpa arah, tanpa sentuhan yang betul
Kadang aku bertanya: apakah aku begitu tak diinginkan hingga diperlakukan begini?
Mengapa kehadiranku tak cukup membuat mereka tinggal walau hanya satu hari?
Rumahku bukan rumah—hanya tempat tubuhku diletakkan tanpa peduli.
Kasih sayang yang kutahu hanyalah cita-cita yang tak pernah diberi.
Namun waktu memaksaku kuat, meski hatiku retak sejak usia dini
Aku belajar merakit jiwaku dari puing, sebab tak ada yang mengajarkan cara mencintai
Kini aku berdiri—bukan karena mereka, tapi karena aku memaksa diri tak roboh
Dan meski hancur pernah menghuni dadaku, aku berjanji: aku tak akan menjadi sunyi yang sama untuk hidup yang kelak kutimbun dan kupeluk