Cappucino untuk Sobat Karib

Loading

Cappucino Untuk Sobat Karib

Duduk di kedai kopi. Orang – orang berbincang, berunding, menakar argumen, mungkin juga saling membujuk, merayu, atau bahkan mengintimidasi.
Meski ada pula yang hanya duduk seorang diri, seperti perempuan yang mengambil kursi di sisi agak menjorok ke ruang dalam kedai.

Matanya hanya bercakap dengan ponsel di tangan kirinya. Sementara jemari tangan kanannya mengapit sebatang rokok yang tampaknya baru dinyalakan.

Sesekali ia menyelipkan rokok tersebut di antara bibir bergincu merah kecoklatan. Rambutnya juga kecoklatan tergerai bebas jatuh di bahu. Kulitnya putih tampak dari lengannya yang telanjang menjadi kombinasi warna yang cantik.

Di pangkal lengannya, lipatan gaun berwarna krem terus menjuntai melewati lututnya menambah kesan anggun.

“Perempuan yang menarik, ya?” Kau berbisik di dekat telingaku, seolah tak ingin siapapun mendengar.
“Ya. Menarik,” jawabku.
“Mengapa tak kau sapa? Dia kelihatannya sendirian,” ucapmu.

“Belum tentu. Mungkin pacarnya atau temannya belum datang.”
“Sudah satu jam dia duduk sendiri.”
Aku menarik cangkir di depanku dan mencecap nikmat cappuccino tanpa gula.

“Ayolah, kau sudah melihatnya sejak sebulan lalu. Dia selalu sendiri setiap datang ke sini,” desakmu.
Dari tempatku duduk yang berjarak tak lebih 3 meter darinya, aku bisa memandangnya dengan jelas.

Lekukan hidung yang menarik, bibirnya lebar, matanya juga lebar. Wajahnya agak tirus, membentuk dagu yang lancip.

Sesekali bibirnya bergerak saat ia menjawab ponselnya.

“Jadi, kau akan duduk saja dan melihatnya satu – dua jam lagi seperti kemarin dan kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi?” Kau terus memprovokasiku untuk mendekatinya.
“Memangnya kenapa?”
“Yah, terserah kau saja,” ucapmu mencibir.
Aku tertawa. Kuakui, wanita berambut kecoklatan itu memang sangat menarik. Aku bisa duduk seharian tanpa bosan di kedai kopi yang biasa biasa saja ini, hanya dengan memandangnya merokok, menyeruput kopi susu, atau menjawab ponsel.
Tapi setelah beberapa kali pandangan mata kami saling beradu, aku mulai berpikir mungkin saran sobat karibku yang selalu mendesakku mendekatinya, memang benar.
Sore itu, hujan gerimis turun sejak satu jam lalu. Aku pun telah duduk di hadapannya sejak satu jam yang lalu. Senyumnya lebih menarik dari yang kukira.

Tak banyak yang ia ceritakan tentang dirinya. Sementara aku sudah menceritakan lebih dari separuh kisah hidupku.

Aku sudah mengatakan padanya tentang ibu dan ayahku, kakak dan adikku, tempat kerjaku, dan tempat tinggalku. Bahkan juga tentang kau, sobat karibku.

Oleh :
Maria Endang Pergiwati

“Apa kau menyukainya?” tanyamu setelah kita duduk di kedai itu lagi, sehari setelah aku berbicara dengan Ailin, perempuan cantik berambut coklat itu.
“Tentu saja.” Aku tak ingin berpura pura di hadapanmu.
“Apa dia punya kekasih atau suami?”
“Mana kutahu.”
“Mengapa tidak kau tanyakan?”
“Akan aku tanyakan,”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Lalu apa? Mana mungkin kau tidak mengerti, lalu apa kau akan memacarinya, kemudian menikahinya kalau dia tak punya suami atau pacar?”
“Aku tidak tahu. Tidak. Aku tidak ingin menikahinya,”
“Mengapa?”
“Aku tidak ingin menghabiskan waktuku hanya dengannya. Aku punya kehidupanku sendiri, aku punya pekerjaanku, ayah ibuku, saudara-saudaraku, teman-temanku, dan aku punya kau, sobat,”
Kau terdiam menatapku beberapa saat.
Ya, hanya kau yang mengerti diriku.
Ailin pun menanyakan hal yang sama, tentang hubungan ini dan mengapa aku hanya menyebutnya hanya sebagai teman, setelah hampir satu tahun bersama.
Hampir setiap akhir pekan, aku dan Ailin melepas rutinitas menginap di vila kecil yang kami sewa di pinggir kota sekedar untuk menikmati pemandangan alam bersama. Terkadang kami berkemah di pegunungan, atau sekedar menapaki pasir pantai, sambil bergandengan tangan. Saat malam, kami akan tidur berdekapan, setelah bercinta habis-habisan.
Derai tawa Ailin selalu berhasil mengurai penat dan membangun kembali semangatku melewati waktu.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Ailin saat duduk di teras vila kecil pagi itu.
“Aku hanya ingin kita berjalan apa adanya, tidak usah memaksakan diri…”
“Hanya itu? Mengapa denganku?” tanya Ailin memotong ucapanku.
“Karena aku senang menghabiskan waktu denganmu. Kau … Kau tidak senang?”
“Aku senang menghabiskan waktu denganmu,” ucap Ailin sambil memajukan kursinya ke arahku. Jemarinya lembut menyentuh wajahku. Pandangannya menatap lekat kedua mataku.
“Lalu?” Aku melirik bibir merahnya yang selalu ingin kucium.
“Kau tidak ingin menikah denganku?” Pertanyaan Ailin mengejutkanku.
Kau menoleh menatapku, saat kuceritakan pertanyaan Ailin saat itu.
“Lalu kau jawab apa dia?” tanyamu.
“Aku katakan, aku belum siap menikah,” jawabku perlahan.
“Lalu apa yang dia katakan, setelah kau jawab begitu?”
Aku menghela nafas, enggan menceritakan kembali hari terakhirku bersama Ailin padamu.
“Aku tahu, orang tuamu, kakak adikmu, dan terutama sobat akrabmu yang selalu kau ceritakan itu, kau tak ingin mengurangi perhatian kepada mereka karena menikahiku,” ucap Ailin saat itu.
Ailin juga menanyakan, mengapa aku tak pernah memperkenalkan dirinya pada ayah dan ibu, atau mengajaknya mengunjungi kakak dan adikku, lalu menikmati secangkir cappuccino bersamamu, sobat karibku.
Aku hanya terdiam.
“Sayang, aku tidak ingin memaksamu menikahiku. Aku hanya bertanya, apakah kau tak ingin menikahiku, supaya kita bisa terus bersama melewati 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 100 tahun lagi,” kata Ailin membuatku tak mampu berucap.
“Bila memang kau tak ingin, baiklah, Kau pergi saja dengan sobat karibmu yang selalu kau ceritakan dan selalu kau katakan ia setia menemanimu, tapi tak pernah sekali pun aku melihatnya bersamamu. Baiklah, tak apa. Mungkin kau lebih suka bersamanya daripada bersamaku.”
Selanjutnya, Ailin tampak masih mencoba tersenyum. Entah mengapa, senyumnya terasa nyeri menusuk hati.
Kau juga terdiam, seolah mendengar sendiri kata-kata terakhir Ailin tanpa kuceritakan padamu.
Beberapa menit kita berdua terdiam di kedai kopi yang sama yang selalu kita kunjungi sejak beberapa tahun lalu.
Kini, tak ada lagi sosok Ailin, perempuan berambut coklat yang pernah membuatku ingin menghabiskan seluruh hidupku dengannya. Tapi salahkah bila aku tak ingin melupakan ayah ibuku yang telah meninggal dunia dalam kecelakaan bus saat ingin mengunjungiku beberapa tahun lalu, kakak dan adikku meski mereka telah sibuk dengan keluarganya masing-masing dan tak pernah lagi datang atau sekedar menyapaku sejak ayah dan ibu meninggal dunia, dan kau sobat karibku, satu-satunya teman yang menerimaku dan menemaniku, mendengarkan ceritaku, kebohongan dan kejujuranku, keberanianku dan ketakutanku. Aku tidak siap meninggalkan itu semua.
Beberapa jenak selanjutnya, kau tersenyum menatapku.
“Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi. Mari kita pulang,” ucapmu sambil berdiri dan beranjak dari tempat itu.
Aku melangkah mengikutimu keluar dari kedai, setelah menghabiskan cappuccino yang selalu kau pesan, tapi tak pernah kau minum.
Gadis di bagian kasir tersenyum mengangguk ke arahku saat kami melewatinya. Matanya terus menatapku sebelum beralih pada nota pesananku yang selalu memesan 2 cangkir cappucino, tapi tak pernah melihatku datang atau pergi bersama seseorang sama sekali.

Profil singkat :
Maria Endang Pergiwati, biasa dipanggil Endang, lahir 25 Mei 1977, makin intens di dunia sastra sejak menjadi mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya. Lulus tahun 2001, Endang memasuki dunia jurnalistik hingga saat ini. Kini menjadi editor berita sebuah media online Aksaraindonesia.id . Selain beraktifitas dalam jurnalistik dan sastra, juga terlibat dalam tim managemen Teater Api Indonesia, sejak tahun 2022.

13-03-2026

5-5-2026