Perjuangan Haikal, Santri Al Khoziny yang Selamat tapi Harus Kehilangan Kaki

Siska Prestiwati
7 Oct 2025 11:32
3 minutes reading

Sidoarjo (aksara Indonesia. Id) – Di antara reruntuhan mushola Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tim SAR gabungan menemukan Syahlendra Haikal R.A dalam kondisi tak berdaya. Santri muda itu berhasil dievakuasi pada Rabu (1/10/2025) dan langsung dilarikan ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Namun perjuangannya untuk bertahan hidup baru saja dimulai.

Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi, dr.Larona Hydravianto,MKes, SpOT (K) menceritakan bagaimana kondisi korban atas nama Syahlendra Haikal atau lebih dikenal haikal saat pertama kali dibawa ke rumah sakit.

“Saat datang, tungkai kirinya sudah dalam keadaan tidak baik atau sudah dalam keadaan acute limb ischemia. Tungkai haikal sudah bengkak, tak bisa digerakkan, serta muncul gelembung-gelembung bula atau gelembung berisi cairan. Itu tanda suplai darah di area tersebut sudah sangat minim,” ungkap dokter yang menjabat sebagai Kepala Instalasi Bedah RSUD RT Notopuro Sidoarjo kepada reporter aksaraindonesia.id di lantai 7 RSU Notopuro Sidoarjo, Selasa (07/10/2025) siang.

dr. Larona menambahkan tim dokter segera melakukan pemeriksaan USG doppler untuk memastikan aliran darah di kaki Haikal. Dimana hasil dari USG Doppler menunjukan kondisi “no flow” atau sudah tidak ada lagi aliran darah di bawah lutut. Kondisi itu membuat tim medis khawatir, apalagi jari-jari kaki Haikal mulai menghitam.

“Sejak Kamis pagi sebenarnya kami sudah sampaikan pada keluarga perihal kondisi kakinya pasien yang tidak bisa diselamatkan. Tapi saat itu orang tuanya belum siap dan menolak tindakan amputasi,” kata dr. Larona.

Waktu berjalan, ungkap dr Larona, kondisi Haikal terus menurun. Tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda sepsis — infeksi berat yang bisa berujung fatal.

“Haikal demam tinggi, gelisah, hasil laboratorium menunjukkan leukositnya mencapai 21 ribu. Fungsi hatinya juga meningkat tajam. Kami tahu waktu sangat sempit,” lanjutnya.

Akhirnya, Jumat malam, dr Larona didampingi oleh wakil direktur RS Notopuro berusaha untuk berbicara dari hati ke hati dengan orang tua Haikal. Percakapan itu menjadi momen emosional yang sulit dilupakan.

“Kami jelaskan kondisi anaknya dengan jujur dan penuh empati. Alhamdulillah, akhirnya orang tua — terutama ayahnya — bisa menerima dan meminta yang terbaik untuk Haikal. Operasi amputasi pun dilakukan Jumat malam pukul 22.00 WIB dan selesai sekitar Sabtu 00.30 WIB dini hari,” tutur dr. Larona.

Usai operasi, jelas dr Larona, kondisi Haikal perlahan membaik. Suhu tubuhnya stabil, tekanan darah normal, dan hasil laboratorium menunjukkan perbaikan signifikan. Tim dokter bahkan mulai mempersiapkan proses pemulangan. Namun di balik kesembuhan fisiknya, ada luka lain yang tak kasat mata.

“Secara klinis bagus, tapi secara psikologis Haikal agak depresi. Dia tidak banyak bicara, lebih banyak diam namun gelisah dan sulit tidur,” ujar dr. Larona.

Untuk membantu pemulihan mentalnya, sejak awal pihak rumah sakit melibatkan dokter psikiatri serta dukungan besar dari keluarga menjadi kekuatan utama bagi Haikal untuk bangkit.

“Sekarang kondisi Haikal sudah mulai membaik, kami terus berikan semangat dan hiburan. Nanti kalau luka benar-benar kering dan tidak bengkak, dia akan dipasangkan prostesis atau kaki palsu,” tambahnya.

Perjalanan Haikal mungkin belum selesai, tapi semangatnya untuk sembuh menjadi simbol keteguhan di tengah duka besar tragedi ambruknya mushola Al Khoziny.

13-03-2026

5-5-2026