
Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo mengunjungi para korban mushola ambruk Pondok Pesantren Al Khoziny yang sedang dirawat di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo. Kehadiran para wakil rakyat ini menunjukan bahwa pemerintah hadir dan siap untuk membantu masyarakat Sidoarjo.
Ketua DPRD kabupaten Sidoarjo, Abdillah Nasih mengungkapkan apreasi yang tinggi untuk tim gabungan evakuasi yang telah bekerja keras untuk mengeluarkan para korban dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian agar para korban bisa di evakuasi dalam keadaan selamat.
‘’Alhamdulillah proses evakuasi korban sudah dilaksanakan dengan sebaik mungkin dan kami mengucapkan terima kasih kepada tim gabungan yang sudah bekerja keras selama tiga hari. Hari ini, kami dari DPRD Kabupaten Sidoarjo ingin melihat langsung perkembangan kesehatan para korban yang sudah dibawa ke RSU R.T Notopuro,’’ kata Abdillah usai melakukan kunjungan ke RSU R.T Notopuro, Kamis (02/10/2025).

Politisi PKB ini menjelaskan perwakilan DPRD Kabupaten Sidoarjo mengunjungi beberapa korban yang sedang menjalani perawatan intensif dan sebagian besar kondisinya sudah baik bahkan sudah bisa diajak berbicara.
“Untuk Haikal, kami tidak bisa menemuinya karena kondisi Haikal masih membutuhkan perawatan serius di Ruang Intensive Care Unit (ICU),” jelas Ketua DPC PKB Sidoarjo ini.
Meskipun gagal bertemu dengan Haikal, rombongan DPRD Kabupaten Sidoarjo ini sudah menemui beberapa korban dan juga bercengkrama tidak hanya dengan pasien tetapi juga dengan keluarga korban yang sedang merawat sang pasien. Beberapa menit bercengkrama dengan para santri yang baru saja mengalami peristiwa berat dan traumatic justru menimbulkan kekaguman bagi para wakil rakyat.
“Subhanallah, kami sangat kagum dengan para santri ini. Meskipun mereka baru saja mengalami peristiwa yang sangat berat tapi tidak tampak trauma. Bahkan mereka menanyakan kapan mereka bisa kembali ke pondok dengan penuh semangat,”tutur Abdillah.

Abdillah menuturkan saat ditanya mengapa ingin kembali ke pondok? Rata-rata para santri Pondok Pesantren Al Khoziny ini mengaku ingin kembali mempelajari ilmu agama dan merindukan aktivitas beribadah yang sehari-hari mereka kerjakan sebelum terjadinya peristiwa naas, Senin (29/09/2025) sore.
“Dengan hati-hati kami bertanya, mengapa pingin kembali ke pondok?,” kata Abdillah.
“Kami ingin belajar di pondok tempat bapak, ibu dan kakak kami belajar,” ucap Abdillah menirukan jawaban para santri.
Abdillah mengaku kagum mendengar jawaban santri tersebut, yang menunjukan bahwa sistem pendidikan di Pondok Al Khoziny sangat baik sehingga dalam satu keluarga mempercayakan pendidikan agama anggota keluarganya di pondok yang berada di Sidoarjo ini.
“Subhanallah betapa bagusnya sistem pendidikan di Ponpes Al Khoziny ini. Ini buktinya, sebagian besar santri mengaku memilih mondok di Al Khoziny karena sebelumnya sudah ada anggota keluarga yang terlebih dahulu mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH.Abdus Salam Mujib ini,” tuturnya.
Abdillah mengaku rasa takjub makin besar saat dirinya mendengarkan cerita beberapa korban. Ada santri yang merasa dia hanya sehari berada di dalam reruntuhan tersebut. Padahal seperti yang diketahui korban ini merupakan korban yang berhasil di evakuasi oleh tim basarnas pada hari ketiga.
“Subhannallah, kalau tidak salah Wahyudi mengaku dia hanya sehari saja di bawah reruntuhan. Dia mengaku saat kejadian semua gelap, lalu dia bangun dan melaksanakan sholat saat mendengar adzan dan tidak lama tim basarnas berhasil membawa keluar dari reruntuhan,’’ jelasnya.
Abdillah menambahkan banyak sekali kisah-kisah yang justru mengundangkan rasa takjub akan kebesaran Allah SWT dari cerita para santri korban ambruknya Mushola Ponpes Al Khoziny yang tentunya tidak sama antara satu korban dengan korban lainnya. Setiap santri punya pengalaman yang penuh dengan makna selama mereka terjebak di dalam reruntuhan selama tiga hari namun tidak terlalu meninggalkan trauma yang berarti mengingat mereka sudah ingin segera kembali ke pondok.
Dalam kunjungan ini, sambung Abdillah juga mengetahui adalah ada salah satu korban yang harus diamputasi kakinya karena tidak bisa dipertahankan. Pihak keluarga mengaku takut bila putra mereka akan merasa tidak percaya diri karena tidak memiliki kaki. Mendengar hal itu, Abdillah mengaku merasa ada sesuatu yang mengiris hati.
“Kami berusaha untuk menguatkan dan membuat santri tersebut percaya diri dengan mengatakan sehat dulu ya, kalau sudah sehat nanti insyaallah dapat kaki baru,” ujarnya.
Pihak DPRD Kabupaten Sidoarjo, ungkap Abdillah pasti akan mengawal agar santri ini bisa mendapatkan bantuan kaki palsu agar santri bisa beraktivitas kembali meskipun tidak bisa seperti sediakala. Namun diharapkan dengan adanya bantuan kaki palsu ini, santri tersebut bisa kembali merajut dan meraih cita-cita di masa depan.
Disinggung soal bantuan bagi para korban seperti yang dituturkan Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al Khoziny Rabu (01/10/2025), Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah mengungkapkan pihaknya akan segera melakukan kordinasi dengan Dinas Sosial dan Baznas bagi para korban khususnya yang mengalami cacat permanen.
“Tentu ada bantuan bagi korban, untuk berapa besarannya, kami akan melakukan kordinasi dengan Dinas Sosial dan Baznas,” tutup Abdillah. adv