​Memanas! Iran-Israel Perang, Bos Bursa Wanti-wanti Investor Tetap Rasional

Lusiana Rujiatini
2 Mar 2026 11:46
2 minutes reading

Jakarta (Aksaraindonesia.id) – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) mulai mengguncang pasar modal global. Menanggapi situasi ini, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik meminta para investor tidak panik dan tetap menggunakan akal sehat dalam bertransaksi.

​Jeffrey mengimbau para pemodal untuk tetap melihat fundamental perusahaan di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat tajam.

​”Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey kepada awak media di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Tak hanya soal fundamental, Jeffrey juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing. Mengingat, kondisi pasar saat ini sedang berada dalam tekanan tinggi.

​”Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor,” tambahnya.

IHSG dan Bursa Asia Membara

​Dampak perang ini langsung terasa pada pembukaan perdagangan Senin (2/3) pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 23,95 poin (0,29%) ke level 8.211,31.

Kondisi serupa terjadi di bursa Asia lainnya. Bahkan, Bursa Kuwait sempat menghentikan perdagangannya, sementara Uni Emirat Arab (UEA) memilih menutup pasar saham mereka selama dua hari, yakni Senin dan Selasa ini.

​’Operation Epic Fury’ dan Ancaman Jalur Minyak

​Ketegangan mencapai puncaknya setelah AS dan Israel melancarkan ‘Operation Epic Fury’, sebuah serangan udara besar-besaran ke fasilitas militer dan nuklir Teheran. Iran pun membalas dengan menghujani rudal balistik ke basis pasukan AS di kawasan Teluk, mulai dari Bahrain hingga Arab Saudi.

Konflik ini memicu kekhawatiran besar terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Sebagai informasi, jalur ini merupakan urat nadi bagi 20-25% pasokan minyak mentah dan LNG dunia.

​Jika Selat Hormuz sampai ditutup, pasar energi global dipastikan bakal guncang. Harga minyak dunia, rantai pasok energi, hingga biaya asuransi pengiriman diprediksi akan melonjak tajam dalam waktu singkat.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :