Yuska Harimurti (dua dari kanan) dari Gusdurian saat menyampaikan perspektifnya, dalam diskusi bersama Pradipta Indra dari Walhi Jatim, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya, Joko Porong, dosen musik dari Unesa dengan moderator Erna Andriyani, Direktur Yayasan Citakita. Doc : EndangSurabaya (aksaraindonesia.id) – Menyikapi bencana yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera, Teater Api Indonesia menggelar Pertunjukan Musik berjudul TITIR yang dimainkan oleh Wukir Suryadi di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Rabu (28/1/2026) malam.
Tak hanya sekedar pertunjukan musik, kegiatan budaya ini bertujuan mengumpulkan donasi untuk para korban bencana di Sumatera. Usai pertunjukan, dibuka ruang diskusi publik yang membahas kondisi kerusakan pasca-bencana, langkah-langkah pertolongan pada para korban, regulasi penanganan bencana serta pemaknaan peristiwa bencana dari sudut pandang budaya.
Untuk pembahasan ini dihadirkan 4 pembicara dari 4 ruang pemikiran dan gerak, yaitu Pradipta Indra dari Walhi Jatim, Yuska Harimurti dari Gusdurian, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya, Joko Porong, akademisi sekaligus praktisi musik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pertunjukan musik yang mengawali gelaran ini menarik, karena irama musik yang ditampilkan sangat berbeda dengan musik popular. Bukan jazz, pop, reggae, rock atau blues. Musik karya Wukir Suryadi adalah musik eksperimental. Bunyi yang dilahirkan pun berasal dari alat musik yang diciptakannya sendiri.
Irama musiknya pun terdengar seperti bunyi logam yang bergesekan atau besi yang diiris begitu dekat di telinga penonton. Ada juga bunyi senar yang dipetik, bersamaan dengan senar yang digesek, dipadu dengan bunyi alat musik pukul. Namun ada saat pula seperti aneka suara dari berbagai burung dan satwa, seolah Wukir membawa hutan ke dalam ruang stage Pendopo Taman Budaya Jatim.
Diskusi pubik yang digelar seusai pertunjukan musik, mencoba menganalisa, apa sebenarnya yang terjadi di alam Sumatera secara khusus, dan Indonesia secara umum sehingga terjadi bencana sedashyat itu.
Yuska Harimurti dari komunitas Gusdurian Peduli mengungkapkan solidaritas masyarakat memang cukup besar pada saat terjadi bencana.
“Namun sisi buruknya banyak hal terlewati. Banyak pihak memanfaatkan peristiwa bencana sebagai panggung pencitraan politik,” ucap Yuska.
Menurutnya, bencana yang terjadi bukan hanya merupakan ujian pada alam, tetapi juga pada sistem, apakah sistem yang ada mampu mengatasi situasi yang terjadi.
“Pertolongan untuk korban bencana pun bukan hanya bangun rumah kembali, melainkan bagaimana mengembalikan dan memberikan jaminan perlindungan alam, ” tambahnya.
Sementara Pradipta Indra, Ketua ED Walhi Jatim mengatakan, bencana bukan hanya urusan Walhi, BPBD, atau instansi terkait, tetapi urusan semua warga penghuni bumi ini.
“Bencana yang terjadi bukan hanya faktor alam, tetapi juga efek perilaku manusia,” kata Indra.
Ia mencontohkan, fungsi ekologis dari tamanan monokultur tidak beragam memberikan dampak pada alam.
“Hutan yang sehat adalah hutan yang mampu menyerap air membentuk sungai bawah tanah. Namun yang terjadi saat ini adalah banyak hutan yang tidak sehat,” ujarnya.
Parahnya, hal ini juga memungkinkan terjadi di Jatim. Hutan tidak bekerja secara maksimal. Bila pohon di tegang, konflik sosial yang terjadi karena konflik air bersih, cuaca makin tak bisa diprediksi.
Senada, Fatkhul Khoir dari Kontras Surabaya menilai, negara telah lupa dengan tanggung jawabnya.
“Saat bencana terjadi, negara harusnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi terjadi pembiaran terus menerus sehingga masyarakat lupa dengan tanggung jawab negara,” ucap Khoir atau Juwir ini.
Khoir mencontohkan, keberadaan korporasi yang masuk dalam industri fi tengah hutan Indonesia, karena difasilitasi oleh negara.
Pembicara terakhir adalah dosen musik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Joko Porong, memandang dari kacamata yang berbeda.
Musisi sekaligus budayawan ini memandang esensi bunyi dalam musik yang disajikan Wukir sebagai peristiwa.
“Peristiwa ini bisa ditafsirkan secara beragam. Nah bagaimana kita menafsirkan peristiwa ini, seperti bagaimana kita menafsirkan peristiwa bencana di Sumatera itu dan menariknya dalam kehidupan kita,” tutur Joko Porong.
Peneliti bidang musik dan kebudayaan ini mengajak audiens berpikir kembali tentang bagaimana kita memperlakukan alam.