Santri Menguatkan Negeri: Mengabdi untuk Indonesia Emas 2045

Siska Prestiwati
22 Oct 2026 08:40
Opini 0 18
7 minutes reading

 

Oleh: Dr. H. Suli Da’im, M.M.
Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur 1995–1997 | Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur 2006–2010

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Provinsi Jawa Timur di Pondok Tremas, Pacitan, bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk merefleksikan peran pesantren dan santri dalam menentukan masa depan Indonesia.
Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga calon pemimpin, ilmuwan, profesional, pengusaha, pendidik, dan penggerak perubahan sosial. Karena itu, peringatan HSN perlu diarahkan pada agenda yang lebih substantif: bagaimana pesantren menyiapkan santri agar mampu menjawab tantangan zaman sekaligus berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Pemilihan Pondok Tremas memiliki makna historis yang kuat. Didirikan pada 1830 oleh KH. Abdul Mannan Dipomenggolo, pesantren ini menjadi bagian penting dari pendidikan Islam Nusantara dan melahirkan ulama besar seperti Maulana Asy-Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi yang berkiprah hingga Makkah dan Masjidil Haram. Sejarah tersebut membuktikan bahwa pesantren sejak dahulu merupakan pusat ilmu, pembentukan karakter, dan persemaian ulama berpengaruh.
Dalam momentum itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menitipkan tiga pesan strategis: menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan dunia digital, serta menghadirkan pengabdian nyata bagi masyarakat. Ilmu menjadi fondasi, teknologi menjadi instrumen, dan pengabdian menjadi tujuan. Ketiganya perlu diterjemahkan ke dalam agenda pembaruan pendidikan pesantren agar HSN tidak berhenti sebagai peringatan, tetapi menjadi titik tolak penguatan peran santri.
Menjaga Kedalaman Ilmu di Era Instan
Tantangan pertama yang dihadapi santri adalah menjaga kedalaman ilmu di tengah budaya serba cepat. Internet menyediakan ringkasan, video pendek, dan jawaban instan, tetapi kecepatan memperoleh informasi tidak sama dengan kedalaman pemahaman.
Tradisi pesantren mengajarkan proses panjang: membaca, menghafal, berdiskusi, mengulang pelajaran, menghormati guru, dan mengamalkan ilmu. Karena itu, santri perlu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan tradisi tafaqquh fiddin. Pada saat yang sama, mereka juga harus memperluas wawasan dalam bidang sains, matematika, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan ilmu sosial.
Pesantren tidak perlu memilih antara tradisi dan modernitas. Tradisi keilmuan yang kuat justru menjadi modal untuk menyaring perkembangan zaman secara kritis. Dengan fondasi tersebut, santri dapat menerima kemajuan tanpa kehilangan arah dan identitas.
Menghadapi Informasi dan Kecerdasan Buatan
Setelah memiliki fondasi keilmuan yang kuat, santri perlu dibekali kemampuan menghadapi arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini membuka peluang besar bagi pendidikan pesantren, seperti menerjemahkan teks, mengakses jurnal, mempelajari bahasa asing, dan memperluas pengetahuan.
Namun, AI juga dapat menghasilkan informasi keliru, referensi palsu, atau pemahaman keagamaan yang dangkal jika digunakan tanpa verifikasi. Karena itu, santri perlu memiliki literasi digital yang mencakup kemampuan memeriksa sumber, menguji bukti, membandingkan pendapat, memahami konteks, serta mengenali disinformasi.
AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Pesantren perlu mengembangkan kurikulum literasi digital, pelatihan AI yang bertanggung jawab, penguatan bahasa, serta pembelajaran sains dan teknologi. Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menjaga Adab dan Menguatkan Kompetensi
Penguasaan ilmu dan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan adab. Kemudahan akses informasi sering membuat popularitas menggantikan otoritas keilmuan. Padahal, pengetahuan tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan, sementara kemampuan berargumentasi tanpa etika dapat memicu permusuhan.
Tradisi pesantren mengajarkan keteladanan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap ilmu. Menjaga adab bukan berarti menutup ruang kritik, melainkan memastikan kritik disampaikan dengan argumentasi dan hormat. Di ruang digital, adab berarti tidak menyebarkan fitnah, melakukan perundungan, memanipulasi informasi, atau menggunakan agama untuk merendahkan orang lain.
Selain adab, santri perlu memadukan ilmu agama dengan kompetensi profesional. Indonesia membutuhkan dokter, insinyur, ahli teknologi, ekonom, guru, dan pemimpin yang kompeten sekaligus berintegritas. Karena itu, pendidikan pesantren perlu memperkuat matematika, sains, bahasa asing, literasi keuangan, kewirausahaan, teknologi, bimbingan karier, sertifikasi, dan pengalaman praktik.
Nilai kejujuran, amanah, keadilan, disiplin, dan kepedulian sosial dapat menjadi pembeda penting dalam kehidupan profesional. Bayangkan santri yang menjadi dokter peka terhadap masyarakat, pengusaha jujur, ahli teknologi beretika, atau birokrat yang menolak korupsi. Mereka tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga membawa nilai pesantren ke ruang publik.
Mengatasi Kesenjangan Pesantren
Upaya membangun santri yang berilmu, beradab, dan kompeten tentu menghadapi kesenjangan kualitas serta fasilitas antar-pesantren. Sebagian pesantren telah memiliki laboratorium, perpustakaan, internet, dan tenaga pendidik berkualitas, sementara lainnya masih terbatas dalam sarana, pendanaan, sumber daya manusia, dan infrastruktur digital.
Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu memberikan dukungan berkelanjutan. Dukungan tersebut tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi guru, pengembangan kurikulum, penyediaan perangkat pembelajaran, internet terjangkau, perpustakaan digital, dan penguatan tata kelola kelembagaan.
Jawa Timur dapat memperkuat kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan lembaga filantropi. Perguruan tinggi dapat memberikan pendampingan, dunia usaha membuka kesempatan magang, sedangkan organisasi masyarakat memperluas beasiswa dan pengembangan kapasitas.
Kebijakan harus berbasis kebutuhan nyata, dengan pemetaan kondisi, indikator pemerataan, target kompetensi, dan evaluasi dampak. Keberhasilan tidak boleh diukur dari seremoni atau jumlah bantuan, melainkan dari meningkatnya kualitas pembelajaran, kompetensi lulusan, dan kesempatan yang setara.
Pemerataan juga tidak berarti menyeragamkan pesantren. Kekhasan pesantren salaf, modern, dan model lainnya tetap harus dihormati. Justru keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang dapat memperkaya ekosistem pendidikan nasional.
Dari Peringatan Menuju Pengabdian
Penguatan ilmu, teknologi, adab, dan kompetensi pada akhirnya harus bermuara pada pengabdian. Pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, gelar, atau prestasi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Santri dapat mengembangkan literasi desa, membantu anak yang kesulitan belajar, menjaga lingkungan, menerapkan teknologi pertanian, mendampingi UMKM, mengedukasi kesehatan, atau membantu masyarakat menggunakan layanan digital. Santri yang menguasai teknologi dapat menciptakan solusi bagi koperasi, sekolah, dan usaha kecil, sementara mereka yang mendalami agama dapat menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan relevan.
Dengan demikian, pesantren bukan menara gading, melainkan bagian dari ekosistem pembangunan yang memiliki kekuatan moral, jaringan sosial, dan potensi intelektual. Santri harus diposisikan sebagai subjek pembangunan yang diberi ruang untuk berinovasi, berpartisipasi, mengembangkan usaha, dan berkontribusi di berbagai sektor.
Pengabdian inilah yang menghubungkan peran santri dengan agenda besar Indonesia. Santri tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi masa depan, tetapi juga dilibatkan sejak sekarang dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Menyiapkan Santri untuk Indonesia Emas 2045
Dalam kerangka Indonesia Emas 2045, HSN 2026 harus melahirkan agenda konkret: memperkuat tradisi keilmuan sekaligus akses terhadap sains dan teknologi; mengembangkan literasi digital dan AI dengan etika; menjadikan adab sebagai bagian integral pendidikan; memperkuat kompetensi profesional; serta mengatasi kesenjangan antar-pesantren melalui kebijakan afirmatif dan kolaborasi.
Pemerintah, pesantren, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus membangun kemitraan berkelanjutan. Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi membutuhkan manusia yang berpengetahuan, berkarakter, produktif, dan peduli terhadap kepentingan bersama.
Sejarah Pondok Tremas membuktikan bahwa tradisi keilmuan pesantren mampu melahirkan ulama yang melampaui batas geografis. Tantangan kini adalah memastikan tradisi tersebut terus berkembang untuk menjawab persoalan abad ke-21.
Santri harus berakar pada nilai keislaman tanpa tertinggal dalam ilmu pengetahuan; terbuka terhadap teknologi tanpa kehilangan daya kritis dan kemanusiaan; serta berprestasi tanpa melupakan tanggung jawab sosial.
Santri yang menguatkan negeri adalah santri yang mendalam ilmunya, luhur adabnya, unggul kompetensinya, cakap teknologinya, dan nyata pengabdiannya.
Itulah makna strategis Hari Santri Nasional 2026: bukan sekadar mengenang jasa santri, melainkan memastikan mereka menjadi bagian penting dari solusi bagi Indonesia hari ini dan masa depan.
Dari Pondok Tremas, Pacitan, kita teguhkan keyakinan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi santri yang mampu menjaga warisan peradaban sekaligus menciptakan kemajuan. Dengan ilmu yang mendalam, teknologi yang dikuasai secara bijak, dan pengabdian yang tulus, santri dapat menjadi salah satu kekuatan utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri Menguatkan Negeri, Bersama Mewujudkan Indonesia Emas.

Join Channel Aksaraindonesia.id untuk mendapatkan update berita terbaru setiap hari.
🛡️ STATUS VERIFIKASI
PT Aksara Indonesia Abyudaya
TERVERIFIKASI ✓
Dokumen & Media ini telah terverifikasi resmi oleh
SMSI JAWA TIMUR

AksaraIndonesia.id

Iklan Jitu

Mobil Motor • Properti • Ragam • Lowongan • Kerjasama Advertorial

Harga Bersahabat, Berkualitas, dan Terpercaya

📱 Hubungi Sekarang

Follow Us

Join WhatsApp Channel

Join Channel
Baca Juga
x
x
Dany Williams

Dany Williams

Typically replies within an hour

I will be back soon

Dany Williams
Berita Terkini, Ekslusif
di WhatsApp AKSARA Indonesia
Berita Terbaru, Eksklusif di Channel Aksara Indonesia