Sampah Jadi Listrik, Gubernur Khofifah Gandeng 7 Daerah Teken Kerja Sama PSEL

Siska Prestiwati
29 Mar 2026 03:00
2 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Upaya mengubah sampah menjadi energi listrik di Jawa Timur memasuki babak baru. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) bersama tujuh bupati dan wali kota di wilayah Surabaya Raya dan Malang Raya. Penandatanganan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (28/3) malam, disaksikan Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq.

Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa PSEL bukan sekadar program penanganan sampah, tetapi langkah strategis untuk mengubah masalah menjadi sumber daya baru. “Kita tidak hanya mengelola sampah, tapi mengubah limbah menjadi energi. Dari problem menjadi potensi. Ini ikhtiar besar untuk menghadirkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Khofifah menyebut kolaborasi lintas daerah menjadi kunci penerapan PSEL, sesuai ketentuan Perpres 105/2025 yang mensyaratkan minimal 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku. “Surabaya Raya dan Malang Raya punya kekuatan kolektif. Sinergi ini penting agar kapasitas dan kebutuhan operasional terpenuhi,” katanya.

Untuk Surabaya Raya, total pasokan sampah harian tercatat sekitar 1.100 ton. Angka ini berasal dari Kota Surabaya 600 ton, Kabupaten Gresik 250 ton, Kabupaten Sidoarjo 150 ton, dan Kabupaten Lamongan 100 ton. PSEL bakal dibangun di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal, Surabaya.

Sementara itu di Malang Raya, suplai sampah mencapai 1.138,9 ton per hari. Kabupaten Malang menyumbang sekitar 600 ton, Kota Malang 500 ton, dan Kota Batu 38,09 ton. Lokasi PSEL disiapkan di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Khofifah mengatakan Pemprov Jatim akan melakukan pendampingan penuh agar kerja sama berjalan efektif. Mulai koordinasi, monitoring-lanjutan, hingga penyelesaian kendala antarwilayah. “Semua proses akan dijalankan secara transparan dan akuntabel. Kami juga akan menyampaikan laporan kepada pemerintah pusat sesuai ketentuan,” ujarnya.

Lebih jauh, Khofifah menilai keberhasilan pembangunan tak hanya soal teknis, tetapi juga soal kekuatan kebersamaan. “Ini ikhtiar lahir dan batin. Lapangan harus jalan, tapi doa dan kekuatan batin juga ikut menentukan,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memberi apresiasi tinggi terhadap capaian Jawa Timur dalam pengelolaan sampah. Ia menyebut persentase kinerja Jatim jauh di atas rerata nasional. “Jatim sudah mencapai 52,7 persen. Nasional masih sekitar 24,95 persen. Ini capaian luar biasa,” ujarnya.

Hanif juga menyoroti penanganan open dumping di Jatim yang lebih baik dibanding daerah lain. “Secara nasional, 66 persen daerah masih melakukan open dumping. Jatim tinggal 44,7 persen. Artinya progresnya nyata dan signifikan,” ujarnya.

Ia berharap keberhasilan Jatim bisa direplikasi oleh daerah lain di Indonesia. “Banyak praktik baik yang bisa ditiru. Saya kira Jawa Timur pantas menjadi rujukan pengelolaan sampah nasional,” pungkasnya.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :