Foto : IlustrasiJakarta (Aksaraindonesia.id)- Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (25/3/2026), dibuka di level Rp16.920 per dolar AS atau melemah 22 poin dibanding penutupan sebelumnya Rp16.898 per dolar AS. Tekanan eksternal dinilai masih dominan, terutama buntut ketidakpastian di Selat Hormuz.
Analis valas Lukman Leong mengatakan suasana pasar global masih cenderung risk off. “Harga minyak bertahan tinggi, Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, dan investor memilih berhati-hati menunggu perkembangan terbaru,” ujarnya.
Situasi di kawasan meningkat setelah laporan dari Sputnik menyebut Iran memastikan kapal non-afiliasi dengan Amerika Serikat atau Israel tetap bisa melintas. Namun ketegangan tak mereda karena blokade dipicu operasi militer kedua negara terhadap Teheran.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital ekspor minyak dan LNG dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. Tersendatnya arus pengiriman langsung berdampak pada produksi dan harga minyak global. Saat ini, minyak WTI berada di kisaran 88 dolar AS per barel, sementara Brent menyentuh 98 dolar AS per barel.
Di tengah tingginya tensi, muncul kabar kemungkinan meredanya konflik. Donald Trump dikutip Anadolu mengaku telah memerintahkan penundaan serangan ke infrastruktur energi Iran selama lima hari. Ia menyebut komunikasi dengan pihak Teheran belakangan ini berlangsung “baik dan produktif”.
Namun pernyataan itu dibantah keras oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menilai kabar negosiasi sebagai “berita palsu” yang sengaja ditiupkan untuk menggoyang pasar minyak dan keuangan. Ia menegaskan masyarakat Iran justru menuntut hukuman tegas bagi pihak yang disebut sebagai agresor.
Dengan kondisi global masih panas dan volatilitas komoditas energi meningkat, pasar valas Tanah Air pun ikut merasakan dampaknya. Rupiah sementara ini masih harus berjibaku menghadapi tekanan eksternal tersebut.