filter: 0; jpegRotation: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0;
hw-remosaic: 0;
touch: (-1.0, -1.0);
modeInfo: ;
sceneMode: Auto;
cct_value: 0;
AI_Scene: (-1, -1);
aec_lux: 0.0;
hist255: 0.0;
hist252~255: 0.0;
hist0~15: 0.0;Sidoarjo (Aksaraindonesia.id) – Genangan banjir yang hampir saban tahun melanda Kecamatan Tanggulangin kembali membuat aktivitas warga tersendat. Di Desa Kedungbanteng dan Banjar Asri, sebagian warga memilih bertahan di rumah meski lantainya sudah tak lagi kering. Di tengah keterbatasan itu, bantuan dari BPBD Sidoarjo mulai berdatangan: delapan toilet portable, satu perahu karet, hingga makanan siap saji dari dapur umum pun disediakan untuk membantu korban banjir.
Sejak hujan deras mengguyur dalam beberapa hari terakhir, air terus meninggi dan belum menunjukkan tanda-tanda surut. Hasil pantauan pada 25 Desember 2025 memperlihatkan ketinggian air mencapai 35–50 sentimeter. Hingga berita ini diturunkan, Senin 29 Desember 2025, ketinggian air masih mencapai 30-40 sentimeter. Anak-anak harus mengangkat celana setinggi lutut, sementara orang dewasa berjalan perlahan agar tak terpeleset. Motor sebagian warga diparkir jauh dari rumah bahkan tidak sedikit motor yang mogok saat harus menerjang genangan banjir. Akibat genangan banjir yang tak kunjung surut aktivitas harian harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.
Kepala Pelaksana BPBD Sidoarjo, Sabino Mariano, menyebut banjir di kawasan Tanggulangin sebenarnya bukan hal baru. Namun tahun ini kondisinya memburuk karena dua faktor yaitu curah hujan tinggi dan rumah pompa Kedungpeluk yang masih dalam proses pengerjaan sehingga kapasitas pembuangan air belum maksimal.
“Banjir memang tahunan, tetapi tahun ini debit air lebih tinggi. Banyak rumah terendam sampai kamar mandi tidak bisa digunakan. Karena itu kami kirimkan delapan toilet portable untuk Desa Kedungbanteng dan Banjar Asri,” kata Sabino, Senin (29/12/2025) siang.
Sabino menambahkan dua desa lain di Tanggulangin, yakni Kalidawir dan Banjarpanji, cenderung lebih aman karena rumah-rumah warga sudah ditinggikan. Meski demikian, BPBD tetap menyiagakan petugas untuk mengantisipasi kemungkinan banjir meluas.
Selain toilet portable, bantuan yang paling ditunggu warga adalah perahu karet. Alat itu bukan hanya dibutuhkan untuk mobilitas warga, tetapi juga aktivitas pendidikan dan keagamaan. Para guru SMPN 2 Tanggulangin misalnya, tetap harus masuk kerja meski sekolah sedang libur panjang. Mereka harus melewati jalanan licin yang tertutup air dan berlumpur.
“Sudah banyak korban. Ada yang jatuh dari motor, ada yang terpeleset saat berjalan. Jalannya licin sekali,” kata Kepala Sekolah SMPN 2 Tanggulangin, Supriyanto, yang ditemui usai turun dari perahu karet bantuan BPBD.
Meski siswa sedang libur, sekolah tidak benar-benar berhenti. Guru tetap piket untuk melayani administrasi dan kebutuhan layanan pendidikan sesuai instruksi Dinas Pendidikan. Karena itu, akses yang aman menjadi kebutuhan mendesak.
“Perahu karet ini sangat membantu. Kami bisa ke sekolah tanpa takut jatuh atau terpeleset lagi. Keselamatan kami terjaga,” imbuh Supriyanto.
Perahu karet itu juga dipakai anak-anak di dua desa terdampak banjir yang sore hari rutin berangkat mengaji. Biasanya mereka berjalan kaki berkelompok sambil menyusuri jalan yang berubah menjadi kubangan air. Kini, perjalanan lebih aman meski harus bergantian naik perahu.
Menurut Sabino, banyak warga sebenarnya mengajukan permintaan tambahan perahu karet. Namun BPBD harus mempertimbangkan dampak setiap perahu yang lalu-lalang karena gelombang kecil dapat masuk ke rumah warga yang masih tergenang rendah.
“Kami berikan sesuai kebutuhan agar tidak membahayakan warga lain. Kalau terlalu banyak perahu lewat, ombaknya bisa masuk ke rumah-rumah,” katanya.
Di tengah banjir yang belum surut, warga mencoba tetap menjalankan aktivitas harian semampu mungkin. Ada yang memasak dengan kompor kecil yang ditaruh di meja kayu setinggi pinggang, ada pula yang memindah barang ke tempat lebih tinggi sambil berharap hujan tidak turun lagi. Sementara itu, bantuan makanan siap saji dari dapur umum BPBD setiap hari dibagikan untuk warga yang kesulitan memasak.
BPBD memastikan tim masih bersiaga di wilayah Tanggulangin dan siap melakukan evakuasi jika kondisi memburuk. Pemerintah daerah juga terus memonitor pengerjaan rumah pompa agar bisa segera difungsikan penuh.
Bagi warga, setiap bantuan yang datang bukan hanya soal logistik, tetapi juga harapan. Harapan bahwa banjir cepat surut, dan harapan bahwa suatu hari air tak lagi menjadi tamu tahunan yang tak diundang.