
Deasy Arieffiani, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hang Tuah (UHT) menerima penghargaan sebagai Bunda Pelestari Kebaya Indonesia. Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Sosok akademisi tak melulu bergelut dengan teori di ruang kelas. Buktinya, Deasy Arieffiani, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hang Tuah (UHT), konsisten mengabdi untuk kelestarian busana tradisional hingga diganjar penghargaan sebagai Bunda Pelestari Kebaya Indonesia oleh Bunda Milenial Surabaya, Jumat (14/8/2026).
Penghargaan yang diserahkan dalam peringatan HUT ke-81 RI di Atrium Utama Royal Plaza Surabaya ini bukan didapat secara instan. Ketua Panitia, Sri Kartika Sari Antariksa, mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan penilaian ketat selama satu tahun penuh terhadap kiprah perempuan yang aktif mengabdi di masyarakat.
”Gerakan Bunda dan Putri Berkebaya menjadi identitas kepribadian perempuan Indonesia yang secara filosofis berkontribusi dalam membangun karakter generasi muda kekinian,” tutur Deasy usai menerima penghargaan langsung dari Ketua Bunda Milenial Surabaya, Dr. Roro Dyah Eko Setyowati.
Tak sekadar menerima piala, Deasy bersama peraih penghargaan Pelestari Wastra Eco Print, Bunda Nawang Wulan, juga didapuk menjadi juri Lomba Bunda dan Putri Berkebaya. Ajang ini digelar guna memperkuat pelestarian busana adat di tengah gempuran tren modern.
Suasana makin hangat lewat talk show “Peran Perempuan Indonesia Mengisi Kemerdekaan” yang dihadiri civitas akademika, organisasi wanita, hingga komunitas seni se-Surabaya. Sejumlah isu krusial dipaparkan oleh para narasumber:
Rangkaian acara ditutup dengan pengumuman pemenang lomba busana. Casilda Faeyza asal Sidoarjo sukses menyabet juara pertama Kategori Busana Daerah. Sementara Kategori Kebaya Indonesia dimenangkan Bunda Christie Gracelia (LIRA Surabaya), Kategori Bunda & Putri Berkebaya diraih Bunda Ria (Ananda Surabaya), serta Kategori Favorit diboyong oleh tim Bunda Mongi, Susan, Quratu, dan Kanti.

