IMPROVE 2026: Merayakan Karya Monumental Dosen Seni di Panggung Internasional

Endang Pergiwati
1 Jul 2026 22:34
5 minutes reading

Surabaya (Aksaraindonesia.id) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar IMPROVE 2026 (International Meeting of Performing Art and Visual Expression) pada Selasa (30/6/2026) hingga Rabu (1/7/2026). Festival seni pertunjukan berskala internasional ini menjadi ruang bagi para dosen seni untuk menghadirkan karya-karya monumental berbasis riset sekaligus mendorong pengakuan karya seni sebagai bagian dari rekognisi akademik dan kepangkatan dosen.

Digelar di lingkungan Unesa, IMPROVE 2026 menjadi ajang perdana yang digagas Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Unesa. Berbeda dengan institut seni murni, Sendratasik Unesa selama ini dikenal sebagai program pendidikan yang mencetak calon guru dan dosen seni.

Sementara realitas menunjukkan bahwa setiap tahun Unesa juga melahirkan ratusan seniman pertunjukan. Karena itu dibutuhkan sebuah wadah agar dosen tetap aktif berkarya sebagai seniman.

Program Director Improve 2026, Sekar Alit. Doc : Endang

Program Director IMPROVE 2026, Sekar Alit M.Pd., M.Sn, menjelaskan bahwa dari isu inilah, festival ini lahir, yaitu dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang berkarya bagi dosen seni pertunjukan.

“Selama ini ruang-ruang festival lebih banyak diperuntukkan bagi seniman, koreografer, atau komponis. Padahal dosen seni pertunjukan juga harus terus menciptakan karya. Melalui IMPROVE kami ingin mendorong lahirnya karya-karya monumental yang dibangun dari proses riset, pengamatan, penelitian, serta rekam jejak tubuh dan pikiran senimannya,” ujarnya.

Menurutnya, festival ini juga menjadi langkah awal untuk memperjuangkan agar karya seni dapat diakui setara dengan publikasi ilmiah dalam sistem kepangkatan dosen.

Ia menilai sistem karier dosen di Indonesia masih bertumpu pada publikasi artikel ilmiah, sementara bagi dosen seni pertunjukan ukuran profesionalitas semestinya juga dilihat dari kualitas dan rekam jejak penciptaan karya.

“Harapannya, karya dosen bisa menjadi penyetara dalam kenaikan pangkat. Di beberapa kampus hal ini sudah mulai diterapkan, dan kami mencoba mengembangkan model tersebut melalui Sendratasik Unesa,” katanya.

Meski baru pertama kali digelar, IMPROVE langsung mengusung standar internasional dengan menghadirkan seniman dari Singapura, Malaysia, Jerman, Prancis, Amerika Serikat, hingga Belgia.

Menurut Sekar, internasionalisasi tidak selalu berarti membawa karya ke luar negeri, tetapi juga mendatangkan seniman dan pengamat dunia ke Indonesia agar mereka melihat langsung potensi seni pertunjukan nasional.

“Internasional tidak harus kita yang pergi ke luar negeri. Kita juga bisa menghadirkan mereka ke Indonesia untuk melihat sumber daya yang kita miliki dan apa yang bisa kita representasikan,” ujarnya.

Sebanyak 12 karya ditampilkan selama festival berlangsung. Seluruh karya mendapatkan penilaian dari dua reviewer internasional dan nasional, yakni maestro tari Indonesia Dr. Dr. Eko Supriyanto, MFA serta kurator festival dunia asal Belgia Arco Forens.

Sementara itu, enam seniman Indonesia dipilih melalui mekanisme open call dan kurasi, yakni Sri Mulyani (Surabaya), Yana Endrayatno (Bandung), Dian Purnama (Yogyakarta), Dedy Setiawan (Flores, NTT), dan Hari Ghulur.

Seniman Preshistoric Body Theater, Ari Rudenko asal USA. Doc : Endang

Kurator internasional asal Belgia, Arco Renz, yang diundang secara khusus memberikan pandangan mengaku sangat terkesan dengan penampilan semua penyaji.

Menurutnya, festival ini menghadirkan keberagaman seni pertunjukan yang mempertemukan karya dari berbagai daerah di Indonesia dengan karya seniman mancanegara.

“Ini festival yang sangat bagus dan merupakan festival baru yang lahir dari dunia kampus. Yang terpenting, kita bisa melihat berbagai pertunjukan dari banyak daerah di Indonesia dan berbagai negara. Semua penampilannya sangat bagus,” ujar pria yang juga seorang koreografer ini.

Arco juga menyatakan akan memberikan berbagai masukan dan rekomendasi kepada para seniman Indonesia untuk mendukung keberlanjutan karya mereka di masa mendatang.

Pertunjukan Sarat Makna

Hari kedua festival dibuka melalui karya berjudul “When Meditation Becomes Dance” karya I Nengah Mariasa dari Sendratasik Unesa.

Pertunjukan diawali iring-iringan penari memasuki Gedung Sawunggaling dengan bunyi kentongan kecil, gemericik air, serta lantunan doa. Di atas panggung tampak lima kubah yang memunculkan bayangan manusia di dalamnya. Suasana kemudian dipenuhi lantunan adzan, doa Hindu, dan doa berbagai agama yang terdengar bersamaan, menggambarkan keberagaman masyarakat Indonesia yang hidup berdampingan.

Penampilan berikutnya datang dari Dedy Setiawan asal Ngada, Nusa Tenggara Timur melalui karya musik “Ebu Nusi”. Karya tersebut mengangkat nilai kebersamaan dan spiritualitas masyarakat Ngada dengan pendekatan artistik berbasis tradisi lisan serta riset terhadap karakter musik lokal.

Sementara itu, Authar Abdillah menghadirkan karya “Instalasi Butoh Ludruk Tasawuf”, yang memadukan teater Butoh, kesenian Ludruk Jawa Timur, instalasi dan nilai-nilai religiusitas.

Pertunjukan diawali para aktor melumuri tubuh dengan bubuk putih dan bergerak perlahan seperti tari Butoh. Panggung dipenuhi berbagai peralatan dapur yang menggantung. Suasana kemudian berubah ketika penari perempuan berkebaya memasuki panggung, mengajak para aktor pria menari layaknya tandak dalam Ludruk.

Di bagian akhir, layar menghadirkan narasi tentang perang, bom atom Hiroshima-Nagasaki, Marie Curie, hingga tragedi kemanusiaan. Aliran cairan merah menyerupai darah membentang dari bagian atas panggung, sementara lantunan zikir menyebut nama Allah terus bergema, menciptakan kontras antara spiritualitas dan kekerasan perang.

Seniman asal Jerman, Martina, turut menampilkan tari kontemporer bertajuk “Hey Bule”, yang menampilkan seseorang yang rindu kampung halaman, rindu “rumah” karena merassa terasing di tengah kehidupan yang ada saat ini.

Pada sesi kedua, Hari Ghulur membawakan karya “Arus Bawah” yang menggambarkan kehidupan petani. Bersama tiga penari lainnya, ia mengisahkan pergulatan masyarakat agraris melalui gerak tubuh yang ritmis dan simbol-simbol hasil panen jagung yang berserakan di atas panggung.

Festival kemudian ditutup oleh seniman teater tubuh asal Amerika Serikat, Ari Dharminalan Rudenko, melalui karya “Prehistoric Body Theater”.

Rudenko yang telah berkarya di Indonesia selama sekitar 15 tahun mengatakan karya-karyanya selalu mengeksplorasi tema prasejarah sebagai cara memahami masa depan manusia di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).

“Saya selalu kembali ke prasejarah untuk melihat apa yang perlahan hilang dari kesadaran kita. Melalui tubuh, kita diingatkan agar tetap membumi dan tidak mudah melupakan masa lalu, terutama ketika dunia bergerak sangat cepat menuju masa depan,” ujarnya.

5-5-2026

Arsip Berita :