Bandara Kertajati Tekor Rp 474 M, Pemprov Jabar Siapkan Transformasi Besar

Lusiana Rujiatini
25 Jan 2026 06:50
2 minutes reading

Jakarta (Aksaraindonesia.id) – Bandara Internasional Kertajati masih mencatatkan kerugian akibat sepinya penumpang. Pendapatan usaha bandara di Majalengka, Jawa Barat, itu belum mampu menutup biaya operasional hingga membuat keuangan perusahaan tertekan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat, hingga Desember 2025, total liabilitas jangka pendek PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) mencapai Rp 474 miliar. Sementara kewajiban jangka panjang bandara tersebut menembus Rp 1,5 triliun.

Pemprov Jabar menilai kondisi keuangan Kertajati tertekan akibat ketidakseimbangan ekosistem permintaan penerbangan. Jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia masih jauh berkurang pascapandemi, sehingga bandara tidak bisa hanya mengandalkan bisnis penerbangan penumpang.

Populasi pesawat yang beroperasi di Indonesia menurun drastis pasca-pandemi, sehingga diperlukan diversifikasi bisnis seperti industri MRO dan logistik untuk bertahan,” tulis Pemprov Jabar dikutip dari situs resminya, Sabtu (24/1/2026).

Disulap Jadi Aerospace Park

Untuk keluar dari tekanan keuangan, Pemprov Jabar bersama BIJB menyiapkan transformasi besar Bandara Kertajati menjadi pusat ekonomi berbasis industri penerbangan melalui pengembangan Aerospace Park serta penguatan konektivitas udara.

Dalam rencana pemulihan bisnis 2026, terdapat tiga fokus utama, yakni optimalisasi penerbangan haji, umrah, dan reguler, penyelesaian kewajiban utang melalui restrukturisasi dan konversi saham, serta pengembangan kawasan Aerospace Park.

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat juga menyusun naskah kebijakan untuk mendorong peningkatan jumlah penumpang secara berkelanjutan. Pengembangan akan terintegrasi dengan kawasan Rebana Metropolitan, termasuk konektivitas menuju Pelabuhan Patimban dan Cirebon melalui Tol Cisumdawu dan Cipali.

Sejumlah agenda ditargetkan mulai berjalan pada 2026. Penerbangan umrah reguler dijadwalkan kembali beroperasi pada 6 Februari 2026. Penambahan rute domestik ditargetkan pada Maret 2026, sementara transaksi pertama bisnis perawatan pesawat (MRO) ditargetkan terealisasi Oktober 2026.

Fokus Pemulihan Keuangan.

Dalam pengembangan Aerospace Park, BIJB akan membangun fasilitas MRO seluas 84,2 hektare. Langkah ini ditujukan untuk menangkap peluang pasar perawatan pesawat di dalam negeri, mengingat sekitar 46% aktivitas MRO maskapai Indonesia masih dilakukan di luar negeri.
Selain itu, pemerintah juga mengusulkan penerapan kebijakan Multi Airport System, termasuk pengalihan sebagian slot penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Kertajati guna menjamin volume penumpang.

Dari sisi keuangan, BIJB akan melakukan konversi utang menjadi modal serta membuka peluang masuknya mitra strategis dengan proyeksi modal dasar hingga Rp 10 triliun. Akses menuju bandara juga akan diperkuat melalui penyediaan transportasi darat reguler dari Bandung Raya, Cirebon, hingga Jawa Tengah langsung ke Bandara Kertajati.
Kalau mau, aku bisa bikin versi lebih pendek ala breaking news detik, atau lead lebih tajam fokus utang Rp 1,5 T.

13-03-2026

26-01-2026

30-01-2026

20-01-2026

27-01-2026

Arsip Berita :