
Sidoarjo (aksaraindonesia.id) – Tim Basarnas kembali mengevakuasi korban Tragedi Mushola Pondok Pesantren Al Khoziny. Tercatat total korban jiwa yang ditemukan sementara ini mencapai 15 orang sejak awal terjadinya tragedi tersebut.
Sabtu (04/10/2025) pukul 14.35 WIB, evakuasi jenazah korban ke-28 atau korban ke-119 dari total keseluruhan dilakukan oleh tim SAR gabungan dari sektor A2. Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi oleh tim DVI Polda Jatim.
Satu jenazah tambahan sebelumnya ditemukan di sektor A4, tepatnya di sisi kanan depan reruntuhan bangunan, pada Jumat malam. Dari total 15 korban meninggal, sembilan jenazah belum teridentifikasi. Proses identifikasi mengalami kendala karena mayoritas korban masih berusia anak-anak dan belum memiliki KTP maupun data biometrik seperti sidik jari, sehingga menyulitkan proses pengenalan identitas secara visual.
“Jenazah sudah masuk pada saat dilakukan alat berat masuk itu sudah tiga hari, sehingga kita semua tahu karena sudah tiga hari tentu saja tanda-tanda pengenalan secara visual itu sudah banyak berubah,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, Sabtu (4/10/2025).
Proses evakuasi telah memasuki hari keenam dan masih terus berlangsung. Fokus pencarian kini diarahkan ke titik-titik reruntuhan yang telah dipetakan sebagai lokasi potensial keberadaan korban. Suharyanto mengungkapkan, hingga saat ini, masih ada sekitar 49 orang yang dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian.
“Hari ini yang masih kita cari berdasarkan data-data yang ada, yang dinyatakan hilang masih 49 orang. Mudah-mudahan ini bisa cepat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Suharyanto menyebutkan bahwa penggunaan alat berat kini mulai dimasifkan untuk mempercepat proses evakuasi, menyusul berhasilnya identifikasi beberapa titik keberadaan korban oleh tim gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan para relawan.
“Kita fokus pada kebersihan secara masif, alat berat masuk ke titik yang runtuh. Sehingga mudah-mudahan per hari ini akan lebih banyak lagi yang ditemukan,” jelasnya.
Sebelumnya, penggunaan alat berat sempat dibatasi karena mempertimbangkan keselamatan korban dan petugas, serta kebutuhan pencarian manual. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin padatnya struktur reruntuhan, penggunaan alat berat dinilai menjadi solusi yang lebih efektif untuk mempercepat proses evakuasi dan identifikasi korban.