
Hong Kong (Aksaraindonesia.id) – Kepanikan menyelimuti kawasan Tai Po, Hong Kong, saat kobaran api besar menjilat delapan blok apartemen bertingkat tinggi, Rabu (26/11/2025). Dalam hitungan jam, kawasan padat penghuni itu berubah menjadi lautan asap. Sebanyak 44 orang tewas, 270 lainnya belum berhasil ditemukan, dan ribuan warga harus mengungsi demi menyelamatkan diri.
Peristiwa ini disebut sebagai kebakaran paling mematikan dalam enam dekade terakhir di kota metropolitan tersebut. Rekaman yang tersebar menunjukkan bangunan-bangunan raksasa dilahap api, sementara kolom asap hitam membumbung tinggi, menutupi langit Hong Kong.
Api Bermula dari Kompleks Wang Fuk Court
Musibah berawal di Wang Fuk Court, sebuah kawasan hunian berisi delapan blok menara setinggi 31 lantai di distrik Tai Po. Kompleks yang dihuni sekitar 4.600 jiwa itu tengah menjalani renovasi. Seluruh sisi luar gedung tertutup perancah bambu dan jaring konstruksi.
Sekitar pukul 14.51 waktu setempat, api pertama kali terdeteksi. Dalam hitungan menit, percikan kecil berubah menjadi kobaran besar. Material bambu yang mudah terbakar membuat api merambat sangat cepat.
Otoritas Hong Kong menyebut pola penyebaran api kali ini tak lazim. Temuan awal mengarah pada penggunaan polistirena di sekitar jendela—bahan termoplastik ringan yang gampang meleleh dan menyebarkan api.
Status Darurat Melonjak ke Level Tertinggi
Hanya 40 menit sejak api muncul, insiden langsung dinaikkan ke status level empat. Namun 3,5 jam kemudian, kebakaran mencapai level lima atau level darurat tertinggi.
Sejumlah saksi mengaku mendengar suara ledakan dari dalam gedung. Petugas pemadam kesulitan mencapai lantai atas karena suhu ekstrem dan akses yang tertutup reruntuhan perancah.
“Panasnya luar biasa. Petugas kami tak bisa langsung masuk untuk melakukan penyelamatan,” kata Wakil Direktur Dinas Pemadam Kebakaran Hong Kong, Derek Armstrong Chan.
Total 767 petugas dikerahkan, didukung 128 mobil pemadam, 57 ambulans, dan ratusan polisi untuk mengosongkan kawasan.
Alarm Tak Bersuara, Banyak Warga Terjebak
Warga yang selamat mengaku alarm kebakaran tidak berbunyi, membuat banyak penghuni terlambat menyadari bahaya.
Hingga Kamis pagi, jumlah korban tewas telah mencapai 44 orang. Sedikitnya 16 korban dalam kondisi kritis, 24 luka berat, dan 16 lainnya dirawat dalam kondisi stabil.
Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, memastikan 279 penghuni belum ditemukan. Polisi menyisir area sambil mengumumkan pencarian keluarga melalui pengeras suara.
Cerita Warga: Banyak Lansia Tak Sempat Menyelamatkan Diri
Seorang warga berusia 65 tahun bermarga Yuen bercerita dengan suara bergetar. Ia telah tinggal di Wang Fuk Court lebih dari 40 tahun dan mengenal banyak tetangganya yang sudah lanjut usia.
“Jendela-jendela sedang ditutup karena renovasi. Banyak yang tidak sadar ada kebakaran sampai dihubungi tetangga. Saya sangat terpukul,” ujarnya.
Petugas Pemadam Tewas Saat Bertugas
Di antara korban jiwa, terdapat satu petugas pemadam kebakaran bernama Ho Wai-ho (37). Ia dinyatakan hilang kontak sekitar pukul 15.30 saat ikut operasi penyelamatan. Setengah jam kemudian, Ho ditemukan dalam kondisi pingsan. Ia dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
“Saya sangat berduka atas gugurnya salah satu anggota terbaik kami,” kata Direktur Dinas Pemadam Kebakaran Hong Kong, Andy Yeung.
Satu petugas lainnya masih menjalani perawatan intensif.